Apa itu Amphotericin B
Amphotericin B digunakan untuk mengobati infeksi jamur serius hingga mengancam nyawa, terutama infeksi jamur invasif yang menyerang organ dalam tubuh. Obat ini dapat digunakan untuk menangani:
Aspergilosis;
Kriptokokosis, termasuk meningitis kriptokokus pada pasien dengan HIV;
Blastomikosis berat;
Kandidiasis sistemik, termasuk infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans, Candida krusei, Candida tropicalis, dan Candida parapsilosis;
Koksidioidomikosis;
Histoplasmosis yang telah menyebar ke berbagai bagian tubuh;
Zigomikosis (termasuk mukormikosis);
Infeksi akibat spesies Conidiobolus dan Basidiobolus yang sensitif terhadap obat;
Kasus berat sporotrikosis;
Infeksi jamur sistemik berat lainnya.
Selain itu, formulasi lipid amphotericin B juga digunakan untuk:
Terapi empiris pada pasien neutropenia yang mengalami demam dan dicurigai mengalami infeksi jamur;
Infeksi akibat Aspergillus, Candida, atau Cryptococcus yang tidak merespons amphotericin B deoxycholate atau ketika penggunaan formulasi konvensional tidak memungkinkan karena gangguan ginjal atau efek samping yang berat;
Leishmaniasis viseral;
Infeksi jamur invasif pada pasien yang tidak dapat mentoleransi atau tidak merespons terapi amphotericin B konvensional;
Kandidiasis pada aliran darah (kandidemia) sebagai alternatif bila obat antijamur lain tidak dapat digunakan.
Sediaan oral amphotericin B juga dapat digunakan untuk mengobati kandidiasis oral.
Penggunaan Off-Label
Selain indikasi yang disetujui, amphotericin B juga digunakan untuk:
Parakoksidioidomikosis berat (South American blastomycosis);
Infeksi jamur yang disebabkan oleh Fusarium spp., Scopulariopsis spp., dan Penicillium spp;
Kriptokokosis serebral sebagai terapi induksi bersama flusitosin;
Korioretinitis dengan keterlibatan badan kaca mata (vitreous);
Sistitis akibat Candida glabrata atau Candida krusei;
Pencegahan infeksi jamur pada kelompok pasien tertentu yang berisiko tinggi, seperti pasien dengan neutropenia berkepanjangan, penerima transplantasi sel punca hematopoietik, dan penerima transplantasi paru.
| Golongan | - |
| Kategori | - |
| Bentuk obat | Salep Mata |
Peringatan sebelum Menggunakan Amphotericin B
Amphotericin B tidak boleh digunakan pada pasien dengan riwayat reaksi hipersensitivitas atau reaksi anafilaksis terhadap amphotericin B.
Obat ini juga tidak dianjurkan digunakan pada pasien dengan kondisi infeksi jamur ringan yang tidak invasif, seperti kandidiasis pada mulut, kerongkongan, atau vagina pada pasien dengan jumlah neutrofil normal.
Selain itu, penggunaan amphotericin B harus dihindari pada situasi berikut:
Riwayat reaksi anafilaksis terhadap amphotericin B;
Infeksi jamur ringan atau tidak mengancam nyawa;
Pemberian dalam dosis melebihi rekomendasi karena dapat meningkatkan risiko efek serius hingga kematian;
Penggunaan pada kondisi yang tidak sesuai indikasi, mengingat obat ini hanya ditujukan untuk infeksi jamur berat dan mengancam nyawa.
Efek Samping Amphotericin B
Amphotericin B dapat menyebabkan reaksi alergi yang serius pada sebagian pasien, dengan gejala seperti biduran, mengi, kesulitan bernapas, serta pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
Efek samping serius yang perlu segera dilaporkan kepada tenaga medis meliputi:
Kulit pucat atau mudah memar;
Tinja berdarah;
Rasa melayang atau seperti akan pingsan;
Kejang (seizure);
Kulit atau mata menguning (jaundice);
Penumpukan cairan di paru-paru, ditandai dengan sesak napas, berkeringat, batuk dengan dahak berbusa, nyeri dada, serta detak jantung cepat atau tidak teratur;
Gangguan fungsi ginjal seperti berkurang atau tidak adanya urin, nyeri saat berkemih, pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki, serta rasa lelah atau sesak napas;
Penurunan kadar kalium, ditandai dengan kebingungan, detak jantung tidak teratur, rasa haus berlebihan, sering berkemih, kram atau kelemahan otot;
Tanda infeksi baru seperti demam, menggigil, gejala mirip flu, luka pada mulut dan tenggorokan, serta napas cepat dan dangkal.
Efek samping lain yang lebih umum dapat meliputi:
Mual, muntah, nyeri perut, dan diare;
Gangguan pencernaan dan penurunan nafsu makan;
Nyeri otot atau sendi;
Sakit kepala dan telinga berdenging;
Nyeri, memar, atau bengkak pada area suntikan;
Penurunan berat badan;
Sensasi panas, kemerahan, atau kesemutan pada kulit;
Demam, menggigil, dan rasa lelah atau lemah;
Detak jantung tidak teratur;
Gangguan penglihatan seperti kabur atau ganda;
Kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada tangan dan kaki;
Ruam atau gatal pada kulit.
Overdosis Amphotericin B
Overdosis Amphotericin B dapat menyebabkan efek toksik yang serius, terutama pada sistem jantung dan kardiopulmonal. Pada beberapa kasus, dapat terjadi gangguan irama jantung seperti ventricular arrhythmia dan bradikardia, terutama pada pasien dengan kondisi jantung yang sudah ada sebelumnya.
Dalam kasus overdosis, dapat terjadi kondisi yang berpotensi fatal seperti henti jantung (cardiac arrest) atau henti jantung dan pernapasan (cardiopulmonary arrest).
Jika terjadi dugaan overdosis, penggunaan obat harus segera dihentikan dan pasien diberikan terapi suportif sesuai kondisi klinis. Amphotericin B tidak dapat dikeluarkan secara efektif melalui prosedur dialisis.
Daftar Produk Obat
Amphotericin B 10 mg

