Apa itu Amitriptyline
Amitriptilin digunakan untuk:
Mengobati major depressive disorder (MDD) atau gangguan depresi mayor pada orang dewasa;
Mengatasi nyeri saraf (neuropathic pain) pada orang dewasa, termasuk nyeri akibat neuropati diabetik;
Mencegah migrain pada orang dewasa;
Mencegah sakit kepala tipe tegang kronis (chronic tension-type headache);
Mengatasi postherpetic neuralgia, yaitu nyeri yang menetap setelah infeksi herpes zoster;
Membantu mengatasi nyeri kronis, termasuk yang berhubungan dengan fibromyalgia;
Mengatasi gangguan kecemasan yang memerlukan terapi berdasarkan pertimbangan dokter;
Membantu mengatasi gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder / PTSD);
Membantu mengatasi gangguan tidur atau insomnia;
Membantu mengatasi irritable bowel syndrome (IBS);
Membantu mengatasi interstitial cystitis atau sindrom nyeri kandung kemih;
Mengurangi produksi air liur berlebih (sialorrhea);
Mengatasi agitasi pada kondisi tertentu sesuai pertimbangan dokter;
Mengobati nocturnal enuresis (mengompol pada malam hari) pada anak usia 6 tahun ke atas yang tidak membaik dengan terapi lain dan setelah penyebab organik telah disingkirkan;
Membantu mengatasi sakit kepala pasca-COVID (post-COVID headache) berdasarkan pertimbangan dokter.
Terdapat beberapa penggunaan amitriptilin yang merupakan penggunaan di luar indikasi resmi (off-label), sehingga penggunaannya harus sesuai dengan penilaian dan pengawasan tenaga medis.
| Golongan | - |
| Kategori | - |
| Bentuk obat | Tablet Salut Selaput |
Peringatan sebelum Menggunakan Amitriptyline
Amitriptyline tidak boleh digunakan pada pasien dengan kondisi berikut:
Hipersensitivitas atau alergi terhadap amitriptyline maupun komponen lain dalam sediaannya;
Riwayat infark miokard (serangan jantung) yang baru terjadi;
Gangguan irama jantung (aritmia), gangguan konduksi jantung (heart block) pada derajat apa pun, riwayat pemanjangan interval QTc, atau gagal jantung;
Gangguan fungsi hati berat (severe hepatic impairment);
Anak usia di bawah 6 tahun;
Penggunaan bersamaan dengan obat golongan Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOI), atau dalam waktu 14 hari setelah penghentian MAOI non-selektif yang ireversibel;
Penggunaan bersamaan dengan cisapride.
Perhatian Khusus
Penggunaan amitriptyline memerlukan kehati-hatian pada pasien dengan:
Glaukoma sudut tertutup (angle-closure glaucoma);
Retensi urine;
Riwayat kejang;
Gangguan fungsi ginjal atau hati, yang mungkin memerlukan penyesuaian dosis.
Selain itu, amitriptyline sebaiknya dihentikan sebelum tindakan operasi elektif karena dapat berinteraksi dengan obat anestesi dan meningkatkan risiko gangguan irama jantung.
Efek Samping Amitriptyline
Efek samping amitriptyline dapat berupa efek ringan hingga serius. Segera hubungi tenaga medis apabila mengalami efek samping yang berat atau mengganggu.
Efek samping yang umum:
Mulut kering;
Mengantuk atau sedasi;
Kelelahan;
Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan;
Mual, muntah, nyeri perut, gangguan pencernaan, konstipasi, atau diare;
Perubahan nafsu makan atau berat badan;
Perubahan rasa pada mulut, nyeri atau peradangan mulut, serta lidah berwarna hitam;
Berkurangnya frekuensi buang air kecil;
Penurunan gairah seksual, impotensi, atau kesulitan mencapai orgasme;
Pembesaran payudara pada pria maupun wanita;
Rambut rontok atau menipis;
Peningkatan sensitivitas mata terhadap cahaya.
Efek samping serius:
Reaksi alergi, seperti biduran, ruam, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan, serta kesulitan bernapas;
Perubahan suasana hati atau perilaku, termasuk agitasi, mudah marah, kecemasan, depresi yang memburuk, halusinasi, atau munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bunuh diri;
Kejang;
Kebingungan, gangguan kesadaran, hingga koma;
Gangguan jantung, seperti nyeri dada, jantung berdebar, denyut jantung cepat, lambat, atau tidak teratur, serta pingsan;
Tanda-tanda penggumpalan darah, seperti mati rasa atau kelemahan mendadak, gangguan penglihatan atau bicara, serta pembengkakan atau kemerahan pada lengan maupun tungkai;
Kesulitan atau nyeri saat buang air kecil, retensi urine, atau penurunan jumlah urine;
Gangguan darah, seperti mudah memar, perdarahan tidak biasa, tinja berwarna hitam, darah pada urine atau tinja, serta munculnya bintik-bintik merah pada kulit;
Demam, menggigil, sakit tenggorokan, sariawan, atau pembengkakan kelenjar;
Gangguan hati, seperti urine berwarna gelap, tinja pucat, nyeri perut kanan atas, serta kulit atau mata menguning;
Tekanan darah tinggi atau rendah, keringat berlebihan, atau demam tinggi;
Gangguan koordinasi gerak (ataksia), tremor, refleks berlebihan (hiperrefleksia), kekakuan otot, atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.
Overdosis Amitriptyline
Overdosis amitriptyline dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem saraf, jantung, dan efek antikolinergik. Kondisi ini berpotensi mengancam jiwa dan memerlukan penanganan medis segera.
Gejala:
Mengantuk berat, penurunan kesadaran, hingga koma;
Gangguan pernapasan (depresi pernapasan);
Kejang;
Jantung berdebar cepat (takikardia), tekanan darah rendah, gangguan irama jantung (aritmia), gangguan hantaran jantung, gagal jantung, atau syok kardiogenik;
Pupil melebar (midriasis), mulut kering, retensi urine, serta penurunan gerakan usus;
Kebingungan, agitasi, halusinasi, gangguan koordinasi gerak (ataksia), dan refleks berlebihan (hiperrefleksia);
Demam, suhu tubuh rendah (hipotermia), asidosis metabolik, hipokalemia, dan hiponatremia.
Penanganan:
Belum tersedia antidot spesifik untuk overdosis amitriptyline. Penanganan meliputi terapi suportif dan simptomatik dengan memastikan jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi tetap adekuat. Pemantauan jantung secara ketat diperlukan karena risiko gangguan irama jantung. Dekontaminasi saluran cerna dengan bilas lambung (gastric lavage) dan arang aktif (activated charcoal) dapat dipertimbangkan segera setelah konsumsi. Kejang dapat ditangani dengan benzodiazepin, sedangkan kasus berat mungkin memerlukan perawatan intensif dan dukungan pernapasan.
Daftar Produk Obat
Amitriptyline Hydrochloride 25 mg

