Bagaimana Mendeteksi Kanker Payudara?

Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling banyak terjadi pada wanita di seluruh dunia, sekaligus jenis kanker terbanyak di Indonesia.
Berdasarkan data GLOBOCAN 2022 yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer (IARC), kanker payudara menyumbang 16,2% dari total kasus kanker baru di Indonesia pada tahun 2022, yaitu sebanyak 66.271 kasus.
Kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini memiliki angka kesembuhan yang lebih tinggi, bahkan mencapai 80–90%. Namun sayang adalah sebagian besar pasien di Indonesia baru sadar dan datang berobat dalam kondisi stadium lanjut sehingga penanganan menjadi jauh lebih sulit.
Inilah mengapa deteksi dini menjadi kunci utama untuk penyembuhan dan penanggulangan Kanker Payudara.
Kanker payudara tidak selalu menimbulkan gejala pada stadium awal. Itulah mengapa pemeriksaan rutin sangat penting untuk mendeteksi perubahan bahkan sebelum gejala dirasakan.
Bagaimana Prosedur Deteksi Dini Kanker Payudara
Deteksi dini kanker payudara dilakukan secara bertahap, dari yang bisa dilakukan sendiri di rumah hingga pemeriksaan oleh tenaga medis dan alat pencitraan canggih.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan merekomendasikan tiga tahapan utama deteksi dini yang dikenal dengan singkatan SADARI, SADANIS, dan pemeriksaan penunjang (mamografi atau USG).
SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
SADARI adalah metode pemeriksaan payudara yang dapat dilakukan sendiri di rumah, secara gratis, dan kapan saja. Tujuannya agar wanita mengenal kondisi payudaranya dengan baik sehingga bisa segera menyadari perubahan apapun.
Kapan melakukan metode SADARI:
- •Untuk wanita yang masih menstruasi, lakukan SADARI setiap bulan, sekitar 7–10 hari setelah hari pertama menstruasi. Pada waktu ini, payudara biasanya dalam kondisi paling lunak dan paling mudah diperiksa.
- •Wanita yang sudah menopause, lakukan SADARI setiap bulan pada tanggal yang sama, misalnya setiap tanggal 1 atau 15.
Cara melakukan SADARI (metode 3D: Dilihat — Diraba — Dipencet):
- •Dilihat: Berdirilah di depan cermin dengan penerangan cukup. Perhatikan kedua payudara Anda dalam kondisi tangan di samping, kemudian tangan diangkat ke atas kepala. Amati apakah ada perubahan bentuk, ukuran, warna kulit, kerutan, cekungan, atau perubahan pada puting.
- •Diraba: Berbaring telentang dengan satu tangan di belakang kepala. Gunakan ujung jari tengah, telunjuk, dan jari manis tangan berlawanan untuk meraba seluruh permukaan payudara dengan gerakan memutar kecil. Periksa secara sistematis dari area ketiak ke arah payudara. Rasakan apakah ada benjolan, penebalan, atau area yang terasa berbeda dari sekitarnya.
- •Dipencet: Dengan lembut, pencet puting dan area di sekitarnya untuk memeriksa apakah ada cairan yang keluar. Lakukan pada kedua payudara.
Jika saat melaksanakan metode ini Anda menemukan sesuatu yang mencurigakan seperti benjolan baru, perubahan kulit, atau keluarnya cairan, jangan panik, namun segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut oleh tenaga medis.
SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis oleh Tenaga Medis)
SADANIS adalah pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan terlatih.
Meskipun mirip dengan SADARI, SADANIS memberikan evaluasi yang lebih objektif, sistematis, dan profesional, termasuk pemeriksaan visual dan palpasi payudara serta area kelenjar getah bening di ketiak dan sekitar tulang selangka.
Rekomendasi SADANIS berdasarkan usia :
- •Usia 20–39 tahun: Dianjurkan setiap 1–3 tahun sekali sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin.
- •Usia ≥40 tahun: Dianjurkan setiap tahun, bersamaan dengan pemeriksaan mamografi atau USG payudara.
- •Wanita berisiko tinggi: Dapat memerlukan SADANIS lebih sering sesuai rekomendasi dokter.
Lakukan Periksaan Mamografi
Mamografi adalah pencitraan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah, dan merupakan metode skrining kanker payudara yang paling banyak didukung oleh bukti ilmiah di dunia.
Pada April 2024, U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF) memperbarui rekomendasinya agar semua wanita mulai menjalani skrining mamografi secara rutin sejak usia 40 tahun, dengan frekuensi setiap dua tahun.
Pembaruan ini mendapat dukungan dari American Cancer Society (ACS), yang merekomendasikan mamografi tahunan mulai usia 45 tahun.
Ringkasan rekomendasi mamografi:
- •Usia 40–44 tahun (risiko rata-rata): Boleh memilih untuk mulai mamografi tahunan (ACS) atau sudah direkomendasikan mulai usia 40 (USPSTF 2024).
- •Usia 45–54 tahun: Mamografi tahunan sangat dianjurkan (ACS 2023).
- •Usia ≥55 tahun: Boleh beralih ke mamografi setiap 2 tahun, atau tetap tahunan sesuai preferensi dan kondisi kesehatan.
- •Wanita risiko tinggi (mutasi BRCA atau memiliki riwayat keluarga kuat): Direkomendasikan untuk melakukan skrining lebih intensif, kombinasi mamografi + MRI payudara setiap tahun mulai usia 30, dan penilaian risiko sudah dilakukan sejak usia 25 tahun.
USG (Ultrasonografi) Payudara
USG payudara digunakan sebagai pelengkap mamografi, terutama pada wanita dengan jaringan payudara padat (dense breast) di mana mamografi kurang sensitif, wanita hamil (karena tidak menggunakan radiasi), dan sebagai panduan biopsi.
USG juga merupakan pilihan pemeriksaan pertama yang lebih terjangkau dan tersedia luas di fasilitas kesehatan Indonesia.
MRI (Magnetic Resonance Imaging) Payudara
MRI payudara memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan mamografi dan direkomendasikan sebagai skrining tambahan pada wanita dengan risiko tinggi.
Biasanya metode ini digunakan bersama mamografi, bukan menggantikannya, karena MRI mungkin melewatkan beberapa kanker yang terdeteksi mamografi dan sebaliknya.
Pemeriksaan dengan Metode Biopsi
Biopsi adalah pengambilan sampel jaringan payudara untuk diperiksa secara mikroskopis.
Ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis kanker payudara secara definitif. Biopsi dilakukan jika hasil pemeriksaan fisik atau pencitraan menunjukkan temuan yang mencurigakan.
Baca Juga :Apa Penyebab dari Asam Urat Tinggi?
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Apa Gejala dari Radang Usus Buntu?

Kesehatan
Jangan Sepelekan, Kenali Tanda Bahaya Diare Berikut!

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

