Penyebab dan Faktor Risiko Radang Usus Buntu

Nyeri perut kanan bawah yang tiba-tiba, tidak kunjung reda, justru semakin parah saat berjalan, itu bisa jadi tanda bahaya. Di balik gejala yang sering disepelekan sebagai masuk angin atau sakit perut biasa, bisa tersembunyi kondisi yang memerlukan operasi darurat dalam hitungan jam.
Itulah apendisitis atau yang dikenal luas di masyarakat sebagai Radang Usus Buntu.
Radang Usus Buntu adalah salah satu penyebab paling umum tindakan operasi darurat di seluruh dunia. Artikel ini menjelaskan secara tuntas apa itu usus buntu, mengapa bisa meradang dan apa faktor risikonya.
Apa itu Usus Buntu dan Radang Usus Buntu?
Usus Buntu adalah organ kecil berbentuk seperti cacing, berukuran panjang 5–10 CM dengan diameter sekitar CM mm, yang melekat pada bagian awal usus besar atau sekum di perut kanan bawah.
Usuu dianggap sebagai organ yang tidak memiliki fungsi. Meskipun beberapa penelitian modern menunjukkan bahwa usus buntuk mungkin berperan sebagai reservoir bakteri baik usus dan memiliki fungsi imunologis sebagai bagian dari jaringan limfoid usus.
Meskipun demikian, kehilangan usus buntu melalui operasi tidak menyebabkan gangguan kesehatan yang signifikan pada manusia modern.
Ketika usus mengalami penyumbatan dan terinfeksi, terjadilah peradangan yang menyebabkan usus buntu membengkak, berisi nanah, dan terasa sangat nyeri. Jika tidak segera ditangani, usus buntu yang meradang dapat pecah dan menyebarkan infeksi ke seluruh rongga perut.
Penyebab Terjadinya Radang Usus Buntu
Radang Usus Buntu terjadi akibat penyumbatan pada rongga dalam usus buntu yang kemudian menyebabkan penumpukan tekanan, pertumbuhan bakteri berlebihan dan akhirnya peradangan.
Ada beberapa penyebab penyumbatan tersebut:
- •Adanya fekalit, batu tinja atau apendikolit, yaitu gumpalan tinja yang mengeras dan menyumbat pangkal usus buntu. Terbentuk dari akumulasi tinja, lendir dan garam kalsium.
- •Adanya hiperplasia jaringan limfoid, yaitu pembesaran jaringan getah bening di dinding usus buntu sebagai respons terhadap infeksi. Sering terjadi setelah infeksi saluran cerna atau infeksi umum lainnya.
- •Adanya parasit usus, misalnya cacing seperti cacing kremi yang dapat menyumbat rongga dalam usus buntu, terutama di daerah dengan sanitasi buruk.
- •Adanya tumor usus buntu, yaitu neoplasma usus buntu seperti karsinoid yang dapat menyumbat dari dalam.
- •Adanya benda asing kecil yang tertelan.
Ketika ronggal dalam usus buntu tersumbat, sekresi lendir terus diproduksi namun tidak bisa keluar. Tekanan di dalam apendiks meningkat, menyebabkan pembuluh darah terkompresi dan aliran darah terganggu.
Bakteri yang normalnya ada di usus berkembang biak secara masif dalam kondisi tersebut. Dinding usus buntu pun mengalami peradangan, kemudian terjadinya nekrosis atau kematian jaringan, dan akhirnya bisa pecah.
Faktor Risiko Radang Usus Buntu
Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan seseorang mengalami radang usus buntu:
- •Orang berusia 10–30 tahun, kelompok usia yang paling sering terkena radang usus buntu. Puncak kejadian pada remaja dan dewasa muda. Meskipun begitu, usus buntu dapat terjadi pada semua usia, termasuk bayi dan lansia.
- •Orang dengan jenis kelamin laki-laki, laki-laki memiliki risiko seumur hidup sekitar 8,6%, lebih tinggi dari perempuan (6,7%). Risiko paling tinggi pada laki-laki usia 10–14 tahun.
- •Memiliki anggota keluarga dekat yang pernah menderita radang usus buntu meningkatkan risiko dua kali lipat, menunjukkan adanya faktor genetik dalam kerentanan.
- •Orang yang melakukan diet rendah serat, konsumsi serat yang rendah menyebabkan tinja lebih keras dan padat, meningkatkan risiko pembentukan fekalit atau batu tinja. Studi menemukan prevalensi usus buntu lebih rendah di populasi yang mengkonsumsi tinggi serat.
- •Mengalami infeksi gastrointestinal, infeksi usus (gastroenteritis) dapat memicu pembesaran jaringan limfoid di usus buntu, meningkatkan risiko usus buntu akut.
- •Infeksi parasit usus, pada daerah endemis cacingan, parasit usus berkontribusi pada penyumbatan usus buntu.
- •Konstipasi kronis, kebiasaan buang air besar yang tidak teratur dan tinja yang mengeras meningkatkan risiko pembentukan fekalit.
Faktor yang Bukan Penyebab Terjadinya Radang Usus Buntu (Mitos Umum)
Banyak mitos beredar di masyarakat tentang pemicu usus buntu. Perlu ditegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung bahwa hal-hal berikut ini menyebabkan apendisitis:
- •Menelan biji cabai, biji jambu, atau biji buah lainnya, tidak terbukti secara ilmiah menyebabkan radang usus buntu. Kasus di mana biji ditemukan di apendiks sangat jarang.
- •Makanan pedas, makanan pedas tidak menyebabkan radang usus buntu.
- •Olahraga atau lompat-lompatan, aktivitas fisik tidak memicu radang usus buntu.
Apakah Radang Usus Buntu Bisa Menular?
Radang Usus Buntu adalah kondisi medis akibat penyumbatan dan peradangan lokal pada apendiks atau usus buntu, bukan penyakit infeksius yang bisa berpindah dari satu orang ke orang lain.
Anda tidak akan tertular radang usus buntu dari orang yang menderitanya, melalui kontak fisik, udara, makanan, maupun cara apa pun.
Meskipun demikian, ada catatan penting yang perlu dipahami, infeksi virus atau bakteri tertentu pada saluran cerna dapat memicu pembesaran jaringan limfoid di usus buntu yang kemudian meningkatkan risiko radang usus buntu.
Dalam konteks ini, infeksi saluran cerna yang menular seperti gastroenteritis virus bisa secara tidak langsung menjadi pemicu radang usus buntu pada seseorang yang memang rentan. Namun radang usus buntu itu sendiri tetap tidak menular dari orang ke orang.
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Apa Gejala dari Radang Usus Buntu?

Kesehatan
Jangan Sepelekan, Kenali Tanda Bahaya Diare Berikut!

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

