Polio: Bagaimana Cara Penularan dan Gejalanya?

Poliomielitis (polio) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh poliovirus, sejenis enterovirus yang menyerang sistem saraf. Pada sebagian besar kasus, poliovirus tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan seperti flu biasa.
Namun pada sebagian kecil penderita, virus ini menyerang sumsum tulang belakang dan batang otak, menyebabkan kelumpuhan permanen atau bahkan kematian.
Nama poliomielitis berasal dari bahasa Yunani, yaitu polios (abu-abu), myelos (sumsum), dan itis (peradangan).
Secara harfiah berarti peradangan pada substansi abu-abu di sumsum tulang belakang yang merupakan mekanisme utama penyebab kelumpuhannya.
Virus polio liar masih ditemukan di Pakistan dan Afghanistan hingga 2024. Selain itu, wabah polio yang berasal dari virus vaksin yang bermutasi (cVDPV) masih terjadi di berbagai negara, termasuk beberapa negara Afrika dan Asia, termasuk Indonesia (KLB 2022).
Satu kasus polio di mana pun berarti seluruh dunia berisiko, karena polio tidak mengenal batas negara.
Tiga Jenis Poliovirus
Terdapat 3 serotipe poliovirus liar (Wild Polio Virus / WPV), yaitu:
- •WPV tipe 1 (WPV1), satu-satunya tipe yang masih bersirkulasi di dunia saat ini. Paling sering menyebabkan kelumpuhan.
- •WPV tipe 2 (WPV2), dinyatakan telah eradikasi global sejak September 1999.
- •WPV tipe 3 (WPV3), dinyatakan telah eradikasi global sejak Oktober 2019.
Di samping virus liar, dikenal pula vaccine-derived poliovirus (VDPV), virus yang berasal dari vaksin polio oral (OPV) yang mengalami mutasi dan dapat menyebabkan wabah pada populasi yang tidak tervaksinasi.
Poliovirus adalah virus RNA berukuran sangat kecil dari family picornaviridae, genus enterovirus.
Virus ini sangat stabil di lingkungan, bisa bertahan di air atau tinja selama berminggu-minggu, terutama di lingkungan yang dingin dan lembab.
Poliovirus masuk ke tubuh manusia melalui mulut, berkembang biak di tenggorokan dan usus, kemudian dikeluarkan lewat tinja penderita dalam jumlah besar, bahkan sebelum gejala muncul.
Bagaimana Cara Penularan Virus Polio
Virus polio menular lewat beberapa cara berikut:
- •Rute fekal-oral (paling utama), virus dari tinja penderita mencemari air minum, makanan atau tangan yang tidak dicuci, kemudian tertelan oleh orang lain.
- •Rute oral-oral, melalui tetesan air liur dari orang yang terinfeksi, terutama pada awal infeksi.
- •Air dan sanitasi buruk, virus berkembang pesat di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memadai dan akses air bersih yang terbatas
Siapa yang Paling Berisiko Tertular Virus Polio
Berikut adalah kelompok yang paling berisiko untuk tertular virus polio:
- •Anak di bawah 5 tahun, kelompok paling rentan, terutama yang belum mendapat vaksinasi lengkap.
- •Belum divaksin atau vaksinasi tidak lengkap, faktor risiko terbesar; vaksinasi adalah satu-satunya perlindungan yang terbukti efektif.
- •Tinggal atau bepergian ke daerah endemis seperti Pakistan, Afghanistan dan negara-negara dengan wabah VDPV aktif.
- •Lingkungan sanitasi buruk, daerah tanpa akses air bersih dan pengelolaan limbah yang tidak memadai.
- •Kepadatan penduduk tinggi, mempermudah penyebaran virus dari satu orang ke orang lain.
- •Imunokompromis, penderita HIV/AIDS atau yang menjalani kemoterapi lebih rentan mengalami infeksi berat.
Tanda-Tanda dan Gejala Seseorang Sudah Tertular Virus Polio
Polio sangat licik karena sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Ini yang membuat virus mudah menyebar tanpa terdeteksi.
Berikut adalah spektrum klinis infeksi poliovirus:
Infeksi Tanpa Gejala (Inapparent/Asimtomatik), sekitar 72% kasus
Mayoritas orang yang terinfeksi poliovirus sama sekali tidak merasakan gejala apa pun.
Namun mereka tetap menularkan virus kepada orang lain melalui tinja. Inilah sebabnya polio sulit dihentikan penyebarannya hanya dengan mengandalkan pemantauan gejala.
Polio Non-Paralitik (Minor Illness), sekitar 24% kasus
Gejala ringan yang muncul biasanya dalam 3-7 hari setelah terpapar dan berlangsung 2-5 hari, berupa:
- •Demam ringan dengan suhu 38-39°C
- •Nyeri kepala, biasanya ringan hingga sedang
- •Nyeri tenggorokan, mungkin disertai kesulitan menelan
- •Mual, muntah dan tidak nafsu makan
- •Nyeri perut ringan dengan diare atau konstipasi
- •Kelelahan, badan terasa lemas dan tidak bertenaga
Pada tahap ini, penyakit sering dikira flu biasa atau infeksi saluran cerna. Sebagian besar penderita sembuh sempurna tanpa sisa gejala.
Polio Aseptik Meningitis (Non-Paralitik), sebagian kecil kasus
Pada jenis infeksi ini, virus mencapai sistem saraf pusat tetapi belum menyebabkan kelumpuhan, namun mengalami beberapa gejala berikut:
- •Nyeri kepala lebih berat
- •Kaku kuduk (leher terasa kaku saat digerakkan)
- •Nyeri punggung dan kaki yang lebih intens
- •Sensitivitas terhadap cahaya (fotofobia)
Kondisi ini biasanya sembuh sendiri dalam 1-2 minggu
Polio Paralitik, 1 dari 200 kasus infeksi
Inilah bentuk polio yang paling ditakuti. Terjadi saat virus menyerang dan menghancurkan sel-sel saraf motorik di sumsum tulang belakang atau batang otak.
Kelumpuhan bersifat flaksid (lemas, bukan kaku), asimetris (satu sisi lebih berat dari sisi lain) dan bisa terjadi hanya dalam hitungan jam hingga hari.
Ada tiga bentuk polio paralitik, yaitu sebagai berikut:
- •Polio Spinal (paling umum, ~79% polio paralitik), virus menyerang sel saraf motorik di sumsum tulang belakang. Kelumpuhan terjadi pada satu atau lebih anggota gerak, paling sering tungkai bawah. Ciri khasnya adalah otot menjadi lemas, tidak bisa digerakkan dan pada akhirnya akan mengecil (atrofi).
- •Polio Bulbar (~2% polio paralitik), virus menyerang batang otak yang mengontrol pernapasan, menelan dan berbicara. Gejalanya adalah kesulitan menelan, suara sengau, gangguan napas. Ini bentuk yang paling mengancam jiwa.
- •Polio Bulbospinal (~19% polio paralitik), kombinasi keduanya menyerang baik sumsum tulang belakang maupun batang otak. Prognosis paling berat.
Kesimpulan
Polio tidak bisa disembuhkan. Tetapi dengan penanganan yang tepat, komplikasi bisa dicegah dan kualitas hidup penderita bisa dimaksimalkan. Inilah sebabnya pencegahan melalui vaksinasi jauh lebih penting dari penanganan.
Satu-satunya cara melindungi anak Anda dari polio adalah dengan memastikan jadwal vaksinasi polio lengkap dan tepat waktu. Jangan tunda, jangan lewatkan dan jangan percaya informasi yang mempertanyakan keamanan vaksin tanpa dasar ilmiah.
Jutaan anak telah dilindungi oleh vaksin polio. Polio yang menyebabkan kelumpuhan permanen jauh lebih berbahaya daripada efek samping vaksin yang sangat jarang terjadi.
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Apa Gejala dari Radang Usus Buntu?

Kesehatan
Jangan Sepelekan, Kenali Tanda Bahaya Diare Berikut!

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

