Cara Mencegah Terinfeksi Virus Polio

Poliomielitis atau polio adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh poliovirus, sejenis enterovirus yang menyerang sistem saraf.
Meski pada sebagian besar kasus, poliovirus tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan, namun virus ini juga menyerang sumsum tulang belakang dan batang otak yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen atau bahkan kematian.
Polio adalah salah satu penyakit yang telah mengubah sejarah kesehatan dunia. Dalam beberapa dekade lalu, polio menghantui jutaan orang tua karena kemampuannya melumpuhkan anak-anak dalam semalam.
Pada puncak epidemi polio global sekitar tahun 1952, lebih dari 58.000 kasus dilaporkan hanya di Amerika Serikat dalam satu tahun. Pada era 1980-an, diperkirakan lebih dari 350.000 kasus kelumpuhan terjadi setiap tahun di seluruh dunia.
Sejak Global Polio Eradication Initiative (GPEI) diluncurkan pada 1988 oleh WHO, Rotary International, CDC, dan UNICEF, jumlah kasus polio liar turun lebih dari 99%. Capaian luar biasa ini merupakan salah satu pencapaian kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah manusia.
Indonesia sempat dinyatakan bebas polio oleh WHO pada 2014 sebagai bagian dari Kawasan Asia Tenggara (SEAR).
Namun pada 2022, Indonesia mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) polio pertama setelah lebih dari satu dekade, akibat sirkulasi cVDPV tipe 2 di Aceh, diikuti temuan kasus di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 2023. Ini menjadi pengingat keras bahwa polio bisa kembali ke negara mana pun yang memiliki celah imunitas di populasinya.
Penyebab utama KLB 2022-2023 adalah cakupan vaksinasi yang turun drastis selama pandemi COVID-19, ditambah kantong-kantong wilayah dengan cakupan vaksinasi rendah secara historis.
Bagaimana Cara Penularan Virus Polio
Virus polio menyebar lewat beberapa cara berikut:
- •Rute fekal-oral (paling utama), virus dari tinja penderita mencemari air minum, makanan atau tangan yang tidak dicuci, kemudian tertelan oleh orang lain.
- •Rute oral-oral, melalui tetesan air liur dari orang yang terinfeksi, terutama pada awal infeksi
- •Air dan sanitasi buruk, virus berkembang pesat di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memadai dan akses air bersih yang terbatas
Seseorang yang terinfeksi poliovirus bisa menularkan virus ke orang lain mulai dari 7-10 hari sebelum gejala muncul dan terus menularkan selama 3-6 minggu setelah terinfeksi. Artinya, penularan sering terjadi tanpa disadari karena penderita tampak sehat.
Siapa yang Paling Berisiko Tertular Virus Polio?
- •Anak di bawah 5 tahun adalah kelompok paling rentan, terutama yang belum mendapat vaksinasi lengkap.
- •Belum divaksin atau vaksinasi tidak lengkap, faktor risiko terbesar; vaksinasi adalah satu-satunya perlindungan yang terbukti efektif.
- •Lingkungan sanitasi buruk misalnya daerah tanpa akses air bersih dan pengelolaan limbah yang tidak memadai.
- •Lingkungna dengan kepadatan penduduk tinggi mempermudah penyebaran virus dari satu orang ke orang lain.
- •Imunokompromis, penderita HIV/AIDS atau yang menjalani kemoterapi lebih rentan mengalami infeksi berat.
Polio 100% dapat dicegah dengan vaksin. Tidak ada penyakit lain dalam sejarah yang menunjukkan bukti sekuat ini bahwa vaksin benar-benar bekerja. Pencegahan polio berdiri di atas dua pilar utama: vaksinasi dan sanitasi.
Vaksin Polio Sebagai Langkah Pencegahan Utama untuk Mencegah Polio
Ada dua jenis vaksin polio yang tersedia, yaitu OPV (Oral Polio Vaccine) dan IPV (Inactivated Polio Vaccine).
OPV — Oral Polio Vaccine (Vaksin Polio Oral/Tetes)
Vaksin ini diberikan secara oral (tetes ke mulut), mengandung virus polio yang dilemahkan. Kelebihannya mudah diberikan karena tidak perlu menggunakan jarum suntik, murah, membentuk kekebalan di usus sehingga mencegah penularan dari orang ke orang, dan bisa menginduksi kekebalan komunitas (herd immunity) lebih efektif.
Keterbatasannya adalah dalam satu dari beberapa juta dosis, virus yang dilemahkan bisa bermutasi kembali.
Selain itu, pada populasi yang tidak tervaksinasi, virus dari vaksin yang telah bermutasi (cVDPV) bisa bersirkulasi dan menyebabkan wabah.
IPV — Inactivated Polio Vaccine (Vaksin Polio Suntik)
Vaksin ini disuntikkan, mengandung virus polio yang sudah dimatikan sepenuhnya. Kelebihannya tidak bisa menyebabkan VAPP atau cVDPV sama sekali, jauh lebih aman. Namun jauh lebih mahal, memerlukan jarum suntik dan tidak memberikan perlindungan di usus seluat OPV.
Berikut adalah jadwal vaksinasi polio di Indonesia sesuai dengan Program Imunisasi Nasional dari Kementerian Kesehatan RI:
- •OPV-0 (bPOL), diberikan saat bayi baru lahir (0-24 jam pertama)
- •OPV-1, diberikan saat usia 1 bulan
- •OPV-2, diberikan saat usia 2 bulan
- •OPV-3, diberikan saat usia 3 bulan
- •IPV, diberikan saat usia 4 bulan (diberikan bersama OPV-3 atau saat kunjungan tersendiri)
- •OPV Booster, Usia 18 bulan
Indonesia mulai mengintegrasikan IPV ke dalam jadwal imunisasi nasional sejak 2016 untuk memperkuat perlindungan sekaligus mengurangi risiko VAPP.
Untuk orang dewasa yang belum pernah divaksin polio atau riwayat vaksinasinya tidak jelas, vaksinasi (3 dosis IPV) tetap direkomendasikan. Begitu pula untuk pelancong yang akan mengunjungi negara endemis polio.
Kapan Anak Perlu Vaksin Tambahan (Sub-PIN Polio)?
Dalam situasi KLB polio, pemerintah akan melaksanakan Sub-PIN (Pekan Imunisasi Nasional), vaksinasi massal tambahan yang diberikan kepada semua anak usia sasaran (biasanya 0-7 tahun atau 0-12 tahun) di wilayah terdampak, tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya.
Ini bukan pengganti jadwal rutin, melainkan tindakan darurat untuk memutus rantai penularan secepatnya.
Pencegahan Penularan Virus Polio Melalui Sanitasi dan Kebersihan
Walaupun vaksinasi adalah kunci utama, sanitasi dan kebersihan perorangan tetap berperan penting, terutama di daerah dengan akses air bersih yang terbatas
Lakukan hal-hal berikut untuk menjaga kebersihan diri dan mencegah terpapar dengan virus polio:
- •Cuci tangan pakai sabun, terutama setelah buang air besar, mengganti popok bayi dan sebelum menyiapkan makanan.
- •Air minum yang aman, gunakan air yang telah dimasak atau dari sumber yang terjamin kebersihannya.
- •Pengelolaan tinja yang benar, BAB di jamban yang benar, tidak di sungai atau tanah terbuka.
- •Sanitasi lingkungan, pengelolaan limbah dan sampah yang baik mencegah kontaminasi sumber air
Satu-satunya cara melindungi anak Anda dari polio adalah dengan memastikan jadwal vaksinasi polio lengkap dan tepat waktu.
Jutaan anak telah dilindungi oleh vaksin polio. Polio yang menyebabkan kelumpuhan permanen jauh lebih berbahaya daripada efek samping vaksin yang sangat jarang terjadi.
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Apa Gejala dari Radang Usus Buntu?

Kesehatan
Jangan Sepelekan, Kenali Tanda Bahaya Diare Berikut!

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

