Apa Gejala Serangan Jantung dan Bagaimana Mencegahnya

Apa Itu Serangan Jantung?
Serangan jantung yang dalam dunia medis dikenal dengan istilah Infark Miokard Akut (IMA), adalah kondisi darurat medis yang terjadi ketika aliran darah menuju sebagian otot jantung tersumbat secara tiba-tiba dan tidak mendapat cukup oksigen.
Akibatnya, sel-sel otot jantung di area tersebut mulai rusak dan mati.
Jantung adalah otot yang bekerja tanpa henti sepanjang hidup kita. Untuk bisa terus memompa darah ke seluruh tubuh, jantung sendiri membutuhkan pasokan darah yang kaya oksigen, yang disalurkan melalui pembuluh darah khusus bernama arteri koroner.
Ketika arteri ini tersumbat, jantung tidak mendapat "bahan bakar" yang dibutuhkan, dan bagian otot jantung yang tidak teraliri darah tersebut akan mati. Inilah yang disebut serangan jantung.
Berbeda dengan henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) di mana jantung tiba-tiba berhenti berdetak sama sekali, pada serangan jantung jantung biasanya masih berdetak namun pasokan darahnya terganggu.
Meski begitu, serangan jantung yang tidak ditangani dengan cepat dapat memicu henti jantung mendadak.
Secara global, penyakit jantung koroner yang menjadi penyebab utama serangan jantung merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia. Menurut data WHO, penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 17,9 juta kematian setiap tahunnya atau setara dengan 32% dari seluruh kematian di dunia.
Di Indonesia, penyakit jantung koroner juga menjadi salah satu penyebab utama kematian berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Riskesdas 2018.
Apa Penyebab Terjadinya Serangan Jantung?
Sebagian besar serangan jantung disebabkan oleh proses yang disebut aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding bagian dalam arteri koroner.
Plak ini terbentuk dari kolesterol, lemak, sel-sel darah, dan zat-zat lain yang menempel di dinding arteri selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum gejala apapun muncul.
Proses ini berjalan perlahan dan diam-diam. Bayangkan plak seperti kerak yang menempel di dalam pipa air: semakin tebal keraknya, semakin sempit ruang untuk air mengalir.
Namun yang paling berbahaya bukanlah plak yang besar dan keras, melainkan plak yang tidak stabil dan mudah pecah.
Ketika plak yang rapuh ini tiba-tiba pecah atau retak, tubuh langsung bereaksi dengan membentuk bekuan darah (trombus) di tempat kerusakan tersebut.
Tujuan awalnya adalah untuk menambal robekan tadi, sama seperti tubuh membentuk keropeng pada luka. Namun bekuan darah ini justru dapat langsung menyumbat arteri koroner yang sudah menyempit, menghentikan aliran darah secara mendadak. Inilah yang memicu serangan jantung.
Penyebab lain yang lebih jarang meliputi:
- •Kejang arteri koroner (coronary artery spasm), kontraksi mendadak dinding arteri yang menyempitkan atau menutup aliran darah untuk sementara waktu, bahkan tanpa adanya plak yang signifikan.
- •Diseksi arteri koroner spontan (SCAD), robekan tiba-tiba pada lapisan dinding arteri koroner. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita muda dan ibu yang baru melahirkan.
- •Emboli koroner, gumpalan darah atau zat lain yang berjalan dari bagian tubuh lain dan menyumbat arteri koroner.
Gejala Terjadinya Serangan Jantung
Mengenali gejala serangan jantung sangat penting, baik untuk diri sendiri maupun orang-orang tersayang. Sayangnya, gejala serangan jantung tidak selalu dramatis seperti yang sering digambarkan dalam film atau sinetron.
Berikut adalah beberapa gejala utama serangan jantung yang paling umum:
- •Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada. Biasanya seperti rasa tertekan, diperas, ditindih benda berat atau diremas di bagian tengah atau kiri dada. Rasa ini berlangsung lebih dari beberapa menit atau bisa hilang dan datang lagi.
- •Nyeri yang menjalar. Rasa sakit atau tidak nyaman dari dada dapat menjalar ke bagian tubuh lain, paling sering ke lengan kiri, bahu kiri, leher, rahang, atau punggung. Beberapa orang hanya merasakan nyeri di lengan atau rahang tanpa nyeri dada yang jelas.
- •Sesak napas. Kesulitan bernapas atau napas yang terasa pendek dapat muncul bersamaan dengan nyeri dada atau bahkan tanpa nyeri dada sama sekali.
- •Keringat dingin. Tubuh tiba-tiba berkeringat secara berlebihan meskipun tidak sedang melakukan aktivitas berat atau berada di tempat yang panas.
- •Mual, muntah atau rasa tidak enak di perut.
- •Pusing atau rasa seperti akan pingsan. Dapat terjadi akibat penurunan aliran darah ke otak.
- •Kelelahan luar biasa yang tidak biasa. Terutama pada wanita, rasa lelah ekstrem yang muncul tiba-tiba atau bahkan dalam beberapa hari sebelum serangan bisa menjadi tanda peringatan.
Gejala pada wanita seringkali berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih sering mengalami serangan jantung tanpa nyeri dada yang khas, dan lebih sering mengeluhkan kelelahan ekstrem, sesak napas, mual dan nyeri punggung atau rahang.
Hal ini sering menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan dan penanganan, sehingga wanita perlu lebih waspada terhadap gejala-gejala ini.
Segera hubungi layanan darurat atau minta seseorang membawa Anda ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat.
Faktor Risiko Serangan Jantung
Faktor risiko adalah kondisi atau kebiasaan yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung.
Faktor risiko yang tidak dapat diubah:
- •Usia, risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Pria berusia 45 tahun ke atas dan wanita berusia 55 tahun ke atas (atau setelah menopause) berada pada risiko yang lebih tinggi.
- •Jenis kelamin, pria secara umum memiliki risiko serangan jantung lebih tinggi dibandingkan wanita di usia yang lebih muda. Namun setelah menopause, risiko wanita meningkat secara signifikan dan mendekati risiko pria.
- •Riwayat keluarga, jika orang tua, saudara kandung, atau anak mengalami penyakit jantung koroner di usia muda (pria di bawah 55 tahun atau wanita di bawah 65 tahun), risiko Anda lebih tinggi.
- •Riwayat serangan jantung sebelumnya, orang yang pernah mengalami serangan jantung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya lagi.
Faktor risiko yang dapat dikendalikan:
- •Merokok, merokok adalah salah satu faktor risiko terbesar yang dapat diubah. Nikotin dan zat kimia dalam rokok merusak lapisan arteri, mempersempit pembuluh darah, menurunkan kadar oksigen dalam darah, dan mempercepat pembentukan plak.
- •Tekanan darah tinggi (hipertensi), tekanan darah yang tidak terkontrol secara perlahan merusak dan memperkaku arteri, termasuk arteri koroner, sehingga mempercepat proses aterosklerosis.
- •Kadar kolesterol darah yang tidak normal, kadar LDL (kolesterol jahat) yang tinggi adalah bahan baku utama pembentukan plak di arteri. Kadar HDL (kolesterol baik) yang rendah juga meningkatkan risiko.
- •Diabetes mellitus, kadar gula darah yang tinggi secara kronis merusak pembuluh darah dan saraf yang mengendalikan jantung. Penderita diabetes memiliki risiko dua hingga empat kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung koroner.
- •Obesitas dan kelebihan berat badan, kelebihan berat badan, terutama lemak yang menumpuk di area perut, berkontribusi pada tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang buruk dan diabetes.
- •Kurang aktivitas fisik, gaya hidup sedentari (banyak duduk, kurang bergerak) secara independen meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan berkaitan erat dengan obesitas, tekanan darah tinggi, dan diabetes.
- •Stres berkepanjangan, stres kronis dapat meningkatkan tekanan darah, mendorong kebiasaan tidak sehat dan memicu peradangan yang merusak arteri.
- •Pola makan tidak sehat, konsumsi berlebihan lemak jenuh, lemak trans, garam, gula, dan makanan olahan berkontribusi pada hampir semua faktor risiko di atas.
- •Konsumsi alkohol berlebihan, minum alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan trigliserida.
Cara Mencegah Serangan Jantung
Sebagian besar serangan jantung dapat dicegah karena faktor risikonya sebagian besar dapat dikendalikan, perubahan gaya hidup yang konsisten terbukti secara ilmiah mampu menurunkan risiko secara dramatis.
- •Berhenti merokok adalah perubahan tunggal yang paling besar dampaknya dalam mencegah serangan jantung. Dalam satu hingga dua tahun setelah berhenti merokok, risiko penyakit jantung koroner turun sekitar setengahnya.
- •Aktivitas fisik yang teratur terbukti menurunkan tekanan darah, memperbaiki kadar kolesterol, mengurangi risiko diabetes, dan secara langsung memperkuat otot jantung.
- •Menjaga pola makan jantung sehat. Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan ikan. Batasi konsumsi lemak jenuh dan hindari lemak trans Kurangi asupan garam dan gula tambahan.
- •Menjaga berat badan ideal. Menurunkan berat badan bahkan sebesar 5–10% pada orang yang kelebihan berat badan terbukti dapat secara signifikan memperbaiki tekanan darah, kadar gula darah dan profil kolesterol.
- •Kelola tekanan darah. Tekanan darah ideal adalah di bawah 120/80 mmHg. Jika tekanan darah Anda tinggi, perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang diresepkan dokter harus dijalankan dengan konsisten.
- •Kendalikan kadar gula darah. Bagi penderita diabetes atau pradiabetes, menjaga kadar gula darah dalam rentang normal melalui pola makan, olahraga, dan obat-obatan adalah langkah krusial dalam melindungi kesehatan jantung.
- •Kelola stres dengan meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau sekadar meluangkan waktu untuk hobi dan bersama orang-orang terkasih terbukti bermanfaat bagi kesehatan jantung.
Selain itu, pemeriksaan kesehatan rutin untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah, dan profil kolesterol sangat penting untuk dilakukan.
erutama jika Anda memiliki faktor risiko. Banyak kondisi berbahaya seperti hipertensi dan kolesterol tinggi tidak menimbulkan gejala apapun sehingga hanya bisa dideteksi melalui pemeriksaan.
Baca Juga :Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

Kesehatan
Apa itu Kolesterol dan Bagaimana Mencegahnya

