logo

Beranda

Kesehatan

Teknologi

Berita

logo

Blog Teknologi dan Kesehatan dari Rawat.ID - Rekam Medis Elektronik Lengkap untuk Rumah Sakit dan Klinik

Kategori Blog

Kesehatan

Teknologi

Berita

Informasi Umum

Bioteknologi

Link Lainnya

Instagram

Panduan Pengguna

Lihat Fitur

Registrasi

© 2026 Rawat.ID

Kesehatan10 April 2026

Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

Apa itu Campak dan Bagaimana Penularannya.jpg

Apa itu Penyakit Campak?

Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular dan umumnya ditandai dengan serangkaian gejala awal seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta konjungtivitis (mata merah akibat infeksi pada selaput mata).

Setelah gejala awal tersebut, penderita biasanya akan mengalami ruam kemerahan yang khas pada kulit.

Meskipun campak paling umum menyerang anak-anak, penyakit ini sebenarnya dapat menulari siapa saja di segala usia. Campak sangat mudah menyebar di udara melalui embusan napas, batuk atau bersin dari orang yang terinfeksi.

Penyakit ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat memicu komplikasi penyakit yang parah dan dalam beberapa kasus, bahkan dapat menyebabkan kematian.

Penyebab dan Cara Penularan Campak

Campak secara spesifik disebabkan oleh virus yang tergabung dalam genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae. Penyakit ini ditularkan terutama melalui udara (airborne).

Daya tular campak sangatlah luar biasa. Tingkat serangan penularannya (attack rate) mencapai lebih dari 90%, yang berarti jika ada 100 orang tanpa kekebalan tubuh berada dalam satu ruangan dengan penderita, lebih dari 90 orang kemungkinan besar akan ikut terinfeksi.

Masa inkubasi atau rentang waktu sejak virus masuk ke dalam tubuh hingga gejala pertama muncul pada orang tertular campak adalah antara 7 hingga 18 hari. Seseorang dapat menularkan campak sejak 4 hari sebelum ruam kulit muncul hingga beberapa saat setelah ruam tersebut keluar.

Penyebaran virus campak terjadi dengan sangat cepat dan mudah melalui:

  1. 1.
    Percikan liur (droplets), ketika seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin, percikan cairan yang membawa virus akan menyebar ke udara bebas. Virus ini kemudian dapat terhirup dan menginfeksi orang lain yang berada di sekitarnya.
  2. 2.
    Kontak langsung, bersentuhan langsung dengan cairan tubuh penderita (seperti air liur atau lendir hidung) juga menjadi sumber penularan yang sangat cepat.
  3. 3.
    Benda yang terkontaminasi, virus campak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di luar tubuh manusia, menempel pada permukaan benda selama beberapa jam. Bayi, balita atau orang dewasa yang secara tidak sengaja menyentuh benda tersebut lalu memegang area mulut atau hidungnya dapat langsung terinfeksi.

Bagaimana Virus Campak Menginfeksi Tubuh?

Baca Juga :Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Ketika seseorang menghirup udara yang mengandung virus campak, virus tersebut akan masuk ke saluran pernapasan.

Di sana, virus pertama-tama menginfeksi sel-sel yang seharusnya menjadi pertahanan tubuh kita, yaitu limfosit, sel dendritik dan makrofag alveolar (sel pembersih di paru-paru).

Setelah membajak sel-sel tersebut, virus akan bergerak menuju kelenjar getah bening di sekitarnya.

Dari sana, virus berhasil masuk dan menyebar ke seluruh aliran darah, sebuah kondisi yang secara medis disebut sebagai viremia. Melalui darah, virus ini menyebar ke berbagai organ tubuh yang jauh dari titik infeksi awal.

Saat berada di dalam aliran darah, virus yang dibawa oleh sel dendritik dan limfosit akan kembali berpindah ke sel-sel epitel di sepanjang saluran pernapasan.

Tujuannya adalah agar virus bisa dilepaskan kembali ke udara melalui batuk dan bersin sehingga siklus penularan ke orang lain terus berlanjut.

Proses peradangan awal yang terjadi pada saluran pernapasan inilah yang menimbulkan gejala pilek, mata merah (konjungtivitis) dan batuk.

Sementara itu, puncak demam biasanya terjadi bersamaan dengan proses viremia (saat virus berkembang biak secara masif di dalam darah).

Setelah virus menyebar luas, respons kekebalan tubuh menyebabkan peradangan pada pembuluh darah di bawah kulit (infiltrasi perivaskular dan limfositik) yang pada akhirnya memunculkan ruam kulit yang menjadi ciri khas penyakit ini.

Siapa Saja yang Paling Berisiko Terkena Campak?

Secara umum, siapa pun yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus ini sangat rentan terinfeksi. Ini mencakup mereka yang belum pernah divaksinasi campak atau mereka yang sudah divaksinasi namun tubuhnya gagal membentuk antibodi (kekebalan) yang sempurna.

Risiko mengalami komplikasi campak yang paling parah dan fatal sering kali mengancam kelompok berikut:

Baca Juga :Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

  • •
    Anak-anak kecil dan balita yang belum mendapatkan imunisasi.
  • •
    Ibu hamil, karena infeksi dapat membahayakan keselamatan ibu dan janin yang dikandungnya.
  • •
    Bayi yang tidak mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) eksklusif, karena ASI mengandung antibodi alami dari ibu.
  • •
    Individu dengan kondisi defisiensi (kekurangan) vitamin A, karena vitamin ini sangat krusial untuk menjaga lapisan saluran pernapasan dan sistem kekebalan tubuh.

Apa saja Tanda dan Gejala Campak?

Beberapa orang menganggap campak sebagai ruam kecil dan demam yang hilang dalam beberapa hari. Namun penyakit campak juga sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kecacatan dan kematian yang diakibatkan oleh komplikasi.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang serius pada pasien yang memiliki daya tahan tubuh rendah seperti diare, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis); kebutaan; gizi buruk dan bahkan kematian.

Gejala campak ditandai dengan:

  • •
    Demam dengan suhu badan biasanya >38°C selama 3 hari atau lebih dan akan berakhir setelah 4-7 hari. Demam tinggi terjadi setelah 10-12 hari setelah tertular. Terdapat pula batuk, pilek, mata merah atau mata berair (3C: cough, coryza, conjunctivitis).
  • •
    Tanda khas (patognomonis) ditemukan Koplik's Spot atau bercak putih keabuan dengan dasar merah di pipi bagian dalam.
  • •
    Gejala pada tubuh berbentuk ruam makulopapular. Ruam muncul pada muka dan leher, dimulai dari belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ruam bertahan selama 3 hari atau lebih pada kisaran hari ke-4 sampai ke-7 demam. Ruam muncul saat demam mencapai puncaknya. Ruam berakhir dalam 5 sampai 6 hari, dan menjadi berwarna seperti tembaga atau kehitaman.

Selain gejala di atas, pasien juga dapat merasakan gejala lain seperti lemas dan letih, nyeri pada otot dan sendi, nafsu makan turun, diare dan mual muntah.

Komplikasi Pada Penderita Campak

Komplikasi campak paling sering terjadi pada bayi, wanita hamil dan anak-anak yang kekurangan gizi atau mengalami gangguan imun. Komplikasi yang paling umum adalah pneumonia, yang dapat disebabkan oleh virus campak itu sendiri (misalnya, pneumonia sel raksasa Hecht) atau infeksi bakteri sekunder dengan organisme seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, streptokokus grup A, dan Staphylococcus aureus.

Komplikasi lainnya termasuk infeksi telinga, diare dan muntah, dehidrasi, kebutaan, bronkitis pada anak dan encephalitis atau radang otak.

Jika seorang wanita tertular campak selama kehamilan, hal ini dapat membahayakan ibu dan dapat mengakibatkan bayinya lahir prematur dengan berat badan rendah.

Baca Juga :Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

Tags

Bagikan artikel

whatsapptwitterfacebooklinkedininstagram

Artikel terpopuler

/uploads/small_Mengukur_Berat_Badan_Pasien_Obesitas_0f2a490b24.jpeg

Kesehatan

Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?...

Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

/uploads/small_Dokter_Mengakses_Rekam_Medis_Elektronik_81efc97b26.jpg

Teknologi Kesehatan

Apa itu EMR vs EHR vs PHR...

Apa itu EMR vs EHR vs PHR vs HIS? Berikut Perbedaannya!

/uploads/small_perbedaan_icd_9_icd_10_icd_11_346e5900f0.png

Informasi Umum

Apa Perbedaan ICD 9, ICD 10 dan...

Apa Perbedaan ICD 9, ICD 10 dan ICD 11?

CN
Penulis

dr. Iffah Rizqi Hasanah

"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Artikel terkait
/uploads/small_Mengukur_Berat_Badan_Pasien_Obesitas_0f2a490b24.jpeg

Kesehatan

Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

/uploads/small_Pemeriksaan_Diabetes_atau_Gula_Darah_c91944c893.jpg

Kesehatan

Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

/uploads/small_Apa_itu_Campak_dan_Bagaimana_Penularannya_6cbf87951d.jpg

Kesehatan

Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya