Jangan Sepelekan, Kenali Tanda Bahaya Diare Berikut!

Hampir semua orang pernah mengalami diare, pergi ke kamar mandi berkali-kali dengan tinja yang encer dan lembek, disertai kram perut yang tidak nyaman. Banyak yang menganggap diare adalah keluhan sepele yang akan sembuh sendiri. Padahal, bagi jutaan orang, terutama anak balita di negara berkembang, diare adalah ancaman jiwa yang nyata.
Menurut WHO (2023), diare adalah penyebab kematian anak terbesar kedua di dunia setelah pneumonia, dengan perkiraan 1,6 juta kematian per tahun, mayoritas pada anak di bawah 5 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Yang membuat fakta ini semakin memprihatinkan adalah bahwa kematian akibat diare hampir seluruhnya dapat dicegah. Dehidrasi, komplikasi utama yang membunuh, bisa diatasi dengan terapi rehidrasi oral yang sederhana dan murah.
Namun, banyak keluarga belum mendapatkan informasi yang tepat tentang cara menangani diare, kapan harus ke dokter, dan apa yang seharusnya dan tidak seharusnya diberikan kepada anak yang diare. Artikel ini hadir untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang diare.
Secara medis, diare didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang mengalami buang air besar (BAB) sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi tinja yang encer atau cair, berbeda dari pola BAB normalnya.
Diare terjadi karena adanya gangguan penyerapan air dan elektrolit di usus, atau sebaliknya, usus justru mensekresi (mengeluarkan) terlalu banyak cairan ke dalam lumennya. Hasilnya adalah tinja yang lebih encer dari biasanya.
Pengelompokan diare berdasarkan durasi berlangsungnya diare:
- •Diare akut, berlangsung kurang dari 14 hari. Ini adalah jenis yang paling umum, biasanya disebabkan oleh infeksi dan bersifat self-limiting (sembuh sendiri).
- •Diare persisten, berlangsung 14 hari atau lebih. Memerlukan evaluasi medis karena sering berkaitan dengan infeksi yang tidak tuntas, malabsorpsi atau penyebab non-infeksi.
- •Diare kronis, berlangsung lebih dari 30 hari. Biasanya berkaitan dengan kondisi kronik seperti penyakit radang usus, sindrom iritasi usus besar (IBS), intoleransi laktosa atau penyakit seliak.
Apa Penyebab dari Terjadinya Diare?
- •Infeksi virus, terjadi 40–60% kasus diare pada anak. Norovirus adalah penyebab tersering muntaber (gastroenteritis akut) pada semua usia. Virus lainnya termasuk adenovirus dan astrovirus. Diare virus umumnya tidak memerlukan antibiotik karena bersifat self-limiting dan sembuh dalam 2–5 hari.
- •Infeksi bakteri termasuk Salmonella, Shigella, Campylobacter, Escherichia coli dan Vibrio cholerae (penyebab kolera). Diare bakteri sering disertai demam tinggi dan tinja berdarah dan sebagian kasus memerlukan antibiotik.
- •Adanya parasit. Giardia lamblia dan Entamoeba histolytica adalah parasit usus yang sering menyebabkan diare terutama di daerah dengan sanitasi buruk. Giardia dapat menyebabkan diare kronis dengan tinja berminyak dan berbau busuk (steatorrhea).
- •Intoleransi makanan seperti intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna gula susu) adalah penyebab diare non-infeksi yang sangat umum. Konsumsi makanan mengandung laktosa memicu diare, kembung dan nyeri perut pada individu yang intoleran.
- •Penggunaan obat-obatan (antibiotik) adalah penyebab tersering diare akibat obat karena mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus. Obat lain seperti metformin (diabetes), beberapa obat antihipertensi, obat kemoterapi dan laksatif juga dapat menyebabkan diare. Konsultasikan ke dokter jika diare muncul setelah memulai obat baru.
- •Penyakit radang usus dan beberapa penyakit metabolik dapat menyebabkan diare kronik yang memerlukan penanganan jangka panjang.
- •Kontaminasi makanan dan minuman akibat toksin bakteri (seperti toksin Staphylococcus aureus atau Bacillus cereus pada makanan yang didiamkan terlalu lama) dapat menyebabkan diare dan muntah yang dimulai sangat cepat (dalam 1–6 jam) setelah makan.
Tanda dan Gejala dari Terjadinya Diare
Gejala diare bervariasi tergantung penyebab, tingkat keparahan dan usia penderita. Mengenali gejalanya dengan tepat, terutama tanda-tanda dehidrasi adalah kunci penanganan yang berhasil.
Berikut adalah beberapa gejala umum dari terjadinya diare:
- •Buang air besar encer atau cair 3 kali atau lebih dalam sehari.
- •Kram atau nyeri perut yang muncul sebelum atau saat BAB.
- •Mual, kadang disertai muntah.
- •Kembung dan rasa tidak nyaman di perut.
- •Demam, terutama pada diare yang disebabkan infeksi bakteri.
- •Nafsu makan menurun dan badan terasa lemas.
Tanda-tanda Terjadi Dehidrasi Akibat Diare
Dehidrasi adalah komplikasi utama dan paling berbahaya dari diare,bisa dibagi menjadi tiga tingkat keparahan:
- •Dehidrasi ringan, mulut dan bibir sedikit kering, rasa haus yang meningkat, frekuensi buang air kecil berkurang dan anak terlihat lebih rewel dari biasanya. Dapat ditangani di rumah dengan cairan oral.
- •Dehidrasi sedang, mulut dan lidah sangat kering, mata cekung, pada bayi ubun-ubun cekung, anak menangis tanpa air mata (tearless crying), kulit yang dicubit kembali lambat (turgor kulit menurun) dan frekuensi BAK sangat jarang. Perlu penanganan dengan oralit secara segera dan terarah.
- •Dehidrasi berat, tidak ada air seni sama sekali, mata sangat cekung, bibir dan mulut sangat kering, kulit keriput seperti tidak elastis, lemah ekstrem, kesadaran menurun, denyut nadi lemah dan cepat.
Segera cari pertolongan medis kegawatdaruratan jika memiliki tanda-tanda bahaya berikut:
- •Tinja berdarah atau disenteri (tinja bercampur darah dan lendir), terutama disertai demam tinggi.
- •Tanda dehidrasi berat (lihat di atas).
- •Diare pada bayi di bawah 6 bulan.
- •Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari tanpa perbaikan.
- •Demam sangat tinggi (>38,5°C pada bayi, >39°C pada anak lebih besar dan dewasa).
- •Muntah terus-menerus sehingga tidak bisa minum cairan sama sekali.
Bagaimana Mencegah Terjadinya Diare di Masa Depan
Sebagian besar kasus diare infeksi dapat dicegah dengan langkah-langkah yang sederhana namun terbukti efektif:
- •Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum makan, setelah BAB, setelah mengganti popok bayi dan sebelum menyiapkan makanan adalah intervensi pencegahan paling efektif.
- •Gunakan air yang sudah dimasak (mendidih minimal 1 menit) atau air kemasan dari sumber terpercaya. Hindari minum air dari sumber yang tidak jelas kebersihan dan sanitasinya.
- •Masak makanan hingga matang sempurna, hindari makanan mentah atau setengah matang (terutama daging dan telur), simpan makanan dalam suhu yang tepat dan jangan biarkan makanan matang terpapar di suhu ruang lebih dari 2 jam.
- •Bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko jauh lebih rendah terkena diare karena ASI mengandung antibodi perlindungan, faktor pertumbuhan usus, dan prebiotik alami.
- •Vaksin rotavirus direkomendasikan WHO dan Kemenkes RI sebagai bagian dari imunisasi dasar lengkap anak. Vaksin ini melindungi dari penyebab diare paling berbahaya pada balita.
- •Memastikan jamban yang layak, pengolahan limbah yang benar dan kebersihan lingkungan tempat tinggal adalah fondasi pencegahan diare yang berkelanjutan.
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

Kesehatan
Apa itu Kolesterol dan Bagaimana Mencegahnya

Kesehatan
Apa Gejala Serangan Jantung dan Bagaimana Mencegahnya

