Apa itu Kanker Payudara dan Bagaimana Gejalanya?

Pernahkah Anda merasakan benjolan kecil yang tidak biasa di payudara saat mandi? Atau memperhatikan perubahan bentuk payudara yang tampak berbeda dari biasanya di cermin? Banyak wanita mengabaikan tanda-tanda seperti ini karena takut, tidak tahu atau berharap keluhan itu akan hilang sendiri.
Namun, kecepatan dalam menemukan keluhan dan memeriksakan diri bisa menjadi perbedaan antara penanganan yang berhasil dan kondisi yang terlambat ditangani.
Kanker payudara adalah jenis kanker yang paling banyak terjadi pada wanita di seluruh dunia, sekaligus jenis kanker terbanyak di Indonesia.
Berdasarkan data GLOBOCAN 2022 yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer (IARC)/WHO, kanker payudara menyumbang 16,2% dari total kasus kanker baru di Indonesia pada tahun 2022, yaitu sebanyak 66.271 kasus. Secara global, lebih dari 2,3 juta kasus baru didiagnosis setiap tahunnya.
Kabar baiknya kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini memiliki angka kesembuhan yang jauh lebih tinggi, bahkan mencapai 80–90%. Namun kenyataan yang memprihatinkan adalah sebagian besar pasien di Indonesia, sekitar 60–70%, masih datang berobat dalam kondisi stadium lanjut, sehingga penanganan menjadi jauh lebih sulit.
Inilah mengapa deteksi dini menjadi kunci utama. Artikel ini hadir untuk membantu Anda memahami gejala yang perlu diwaspadai, siapa saja yang berisiko, bagaimana prosedur deteksi yang dianjurkan, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah atau menekan risiko kanker payudara, semuanya berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Gejala yang Perlu Diwaspadai Mengarah ke Kanker Payudara
Kanker payudara tidak selalu menimbulkan gejala pada stadium awal. Itulah mengapa pemeriksaan rutin sangat penting, untuk mendeteksi perubahan bahkan sebelum gejala dirasakan. Namun, ada sejumlah tanda yang perlu Anda kenali dan tidak boleh diabaikan:
- •Benjolan atau penebalan di payudara atau ketiak. Benjolan akibat kanker biasanya terasa keras, tidak teratur bentuknya dan tidak terasa nyeri saat ditekan, berbeda dengan benjolan jinak yang umumnya lebih lunak dan bisa bergerak. Namun perlu diingat: tidak semua benjolan di payudara adalah kanker, dan sebaliknya tidak semua kanker payudara teraba sebagai benjolan. Tetap periksakan ke dokter apabila menemukan benjolan baru yang tidak ada sebelumnya.
- •Perubahan pada kulit payudara. Kulit payudara yang menjadi memerah, menebal, tampak seperti kulit jeruk, berkerut atau mengelupas tanpa sebab yang jelas bisa menjadi tanda peradangan atau pertumbuhan sel kanker di bawahnya.
- •Perubahan bentuk, ukuran, atau kontur payudara. Asimetri ringan antara kedua payudara adalah hal normal. Namun jika Anda mendapati perubahan bentuk atau ukuran yang terjadi secara tiba-tiba, misalnya salah satu payudara tampak lebih tinggi, tertarik ke dalam atau berubah konturnya, segera konsultasikan ke dokter.
- •Puting yang tertarik ke dalam (retraksi puting). Puting yang sebelumnya menonjol keluar tiba-tiba tertarik atau terbenam ke dalam bisa menjadi tanda adanya massa di balik puting yang menariknya. Kondisi ini berbeda dengan puting yang memang sudah masuk ke dalam sejak lahir.
- •Keluarnya cairan dari puting. Keluarnya cairan dari puting di luar masa menyusui, terutama jika hanya dari satu puting, berwarna bening atau berdarah, dan keluar dengan sendirinya tanpa dipencet, perlu segera dievaluasi dokter.
- •Nyeri payudara yang menetap. Nyeri payudara sebenarnya lebih sering berkaitan dengan siklus menstruasi atau faktor jinak. Namun nyeri yang menetap di satu titik tertentu, tidak berhubungan dengan siklus haid, dan tidak kunjung hilang perlu diperiksa lebih lanjut.
- •Pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak. Kelenjar getah bening yang membengkak di area ketiak atau sekitar tulang selangka bisa mengindikasikan penyebaran sel kanker. Kondisi ini bisa muncul bahkan sebelum benjolan di payudara itu sendiri teraba.
Jika Anda menemukan benjolan baru yang tumbuh cepat, kulit payudara yang memerah dan hangat seperti infeksi (kemungkinan inflammatory breast cancer) atau perubahan mendadak pada puting disertai keluarnya darah, segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan tanpa menunda.
Siapa yang Paling Berisiko Terkena Kanker Payudara
Penting untuk dipahami bahwa siapa pun bisa terkena kanker payudara, termasuk pria, meski kasusnya jauh lebih jarang. Namun ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang secara bermakna. Mengetahui faktor risiko Anda bukan untuk membuat Anda cemas, melainkan untuk mendorong Anda lebih proaktif dalam memeriksakan diri.
Baca Juga :Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?
Berikut adalah faktor risiko dari kanker payudara yang tidak dapat diubah:
- •Jenis kelamin dan usia. Wanita memiliki risiko jauh lebih tinggi dibandingkan pria. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia; sebagian besar kasus terjadi pada wanita berusia di atas 40 tahun, meskipun kejadian pada wanita muda juga terus meningkat.
- •Memiliki ibu, saudara perempuan atau anak perempuan yang pernah menderita kanker payudara meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami hal yang sama. Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 adalah yang paling dikenal: wanita dengan mutasi BRCA1 memiliki risiko seumur hidup terkena kanker payudara sebesar 55–72%, dan mutasi BRCA2 sebesar 45–69%, jauh di atas risiko rata-rata populasi umum (sekitar 12–13%).
- •Wanita yang pernah didiagnosis kanker payudara di satu sisi memiliki risiko lebih tinggi untuk sisi payudara yang lain. Kondisi seperti atypical ductal hyperplasia atau lobular carcinoma in situ (LCIS) juga meningkatkan risiko.
- •Menstruasi pertama di usia sangat muda (<12 tahun), menopause yang terlambat (>55 tahun), tidak pernah hamil (nulipara) atau kehamilan pertama di usia tua (>30 tahun), semua faktor ini dikaitkan dengan paparan hormon estrogen lebih lama, yang meningkatkan risiko.
- •Kepadatan jaringan payudara (dense breast). Payudara dengan jaringan kelenjar padat (dense breast) memiliki sel yang lebih aktif dan lebih sulit dievaluasi dengan mamografi, sehingga meningkatkan risiko sekaligus menyulitkan deteksi.
Berikut adalah faktor risiko yang dapat diubah dengan pola hidup sehat:
- •Kelebihan berat badan, terutama pada wanita pasca menopause, meningkatkan kadar estrogen dalam tubuh karena jaringan lemak memproduksi hormon tersebut. Sebuah tinjauan sistematis komprehensif yang menganalisis 31 meta-analisis mengkonfirmasi obesitas sebagai faktor risiko signifikan.
- •Konsumsi alkohol, bahkan dalam jumlah sedikit pun dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Meta-analisis terbaru tahun 2024 dalam Breast Cancer Research menemukan bahwa mengurangi konsumsi alkohol berkaitan dengan penurunan risiko kanker payudara positif reseptor hormon.
- •Kurang aktivitas fisik dan merokok. Inaktivitas fisik berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Merokok aktif maupun pasif secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko berdasarkan berbagai studi.
- •Terapi hormon pasca-menopause. Penggunaan terapi hormon kombinasi (estrogen + progestin) jangka panjang setelah menopause meningkatkan risiko.
- •Tidak menyusui. Menyusui, terutama selama 12 bulan atau lebih secara kumulatif, dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara. Mekanismenya antara lain karena menyusui mengurangi jumlah siklus menstruasi sepanjang hidup.
Tags
dr. Iffah Rizqi Hasanah
"dr. Iffah adalah seorang dokter lulusan Universitas Bengkulu. Selain gemar menekuni perkembangan dunia kedokteran, dr. Iffah juga suka bereksperimen dengan resep-resep masakan sehat."

Kesehatan
Bagaimana Mengukur Berat Badan Ideal?

Kesehatan
Memahami Diabetes Tipe 1, Tipe 2 dan Gestasional

Kesehatan
Apa itu Campak dan Bagaimana Cara Penularannya

Kesehatan
Apa itu Kolesterol dan Bagaimana Mencegahnya

Kesehatan
Apa Gejala Serangan Jantung dan Bagaimana Mencegahnya

