Pada era 1980-an, diperkirakan lebih dari 350.000 kasus kelumpuhan terjadi setiap tahun di seluruh dunia akibat dari kasus poliomielitis.

Penjelasan mengenai definisi Poliomielitis
Kenali penyebab & Resiko yang terjadi pada masing masing penyakit
Pelajari bagaimana virus menyebar dari satu orang ke orang lain
Kenali gejala yang muncul pada masing masing penyakit
Pelajari bagaimana virus menyebar dari satu orang ke orang lain
Poliomielitis atau yang biasa disebut sebagai polio adalah salah satu penyakit yang telah mengubah sejarah kesehatan dunia. Dalam beberapa dekade lalu, polio menghantui jutaan orang tua karena kemampuannya melumpuhkan anak-anak dalam semalam. Berkat program vaksinasi global yang masif, polio hampir berhasil dibasmi dari muka bumi. Namun polio belum sepenuhnya hilang dan masih ada ancaman bagi komunitas yang cakupan vaksinasinya rendah.

Polio dapat dicegah 100% dengan vaksinasi

Vaksinasi melindungi diri sendiri dan orang lain

Program vaksinasi global berhasil turunkan kasus

Dukungan semua pihak penting untuk basmi polio selamanya
Poliomielitis (polio) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh poliovirus, sejenis enterovirus yang menyerang sistem saraf. Pada sebagian besar kasus, poliovirus tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan seperti flu biasa. Namun pada sebagian kecil penderita, virus ini menyerang sumsum tulang belakang dan batang otak, menyebabkan kelumpuhan permanen, atau bahkan kematian.
Nama poliomielitis berasal dari bahasa Yunani, yaitu polios (abu-abu), myelos (sumsum), dan itis (peradangan). Secara harfiah berarti peradangan pada substansi abu-abu di sumsum tulang belakang, yang merupakan mekanisme utama penyebab kelumpuhannya.
Hitam dengan bintik-bintik putih khas di seluruh tubuh.
Pagi (08:00–10:00) dan sore hari (16:00–18:00). Bukan malam hari.
Air bersih tergenang (bak mandi, vas, ban bekas, talang atap).
Relatif pendek, biasanya dalam radius 100–200 meter.
Terdapat 3 serotipe poliovirus liar (wild poliovirus/WPV):
satu-satunya tipe yang masih bersirkulasi di dunia saat ini. Paling sering menyebabkan kelumpuhan
dinyatakan telah eradikasi global sejak September 1999
dinyatakan telah eradikasi global sejak Oktober 2019
Poliovirus adalah virus RNA berukuran sangat kecil dari famili Picornaviridae, genus Enterovirus. Virus ini sangat stabil di lingkungan, bisa bertahan di air atau tinja selama berminggu-minggu, terutama di lingkungan yang dingin dan lembab. Poliovirus masuk ke tubuh manusia melalui mulut, berkembang biak di tenggorokan dan usus, kemudian dikeluarkan lewat tinja penderita dalam jumlah besar, bahkan sebelum gejala muncul.

Virus dari tinja penderita mencemari air minum, makanan, atau tangan yang tidak dicuci, kemudian tertelan oleh orang lain.

Melalui tetesan air liur dari orang yang terinfeksi, terutama pada awal infeksi.

Virus berkembang pesat di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memadai dan akses air bersih yang terbatas.
Pada puncak epidemi polio global sekitar tahun 1952, lebih dari 58.000 kasus dilaporkan hanya di Amerika Serikat dalam satu tahun. Pada era 1980-an, diperkirakan lebih dari 350.000 kasus kelumpuhan terjadi setiap tahun di seluruh dunia.
Sejak Global Polio Eradication Initiative (GPEI) diluncurkan pada 1988 oleh WHO, Rotary International, CDC, dan UNICEF, jumlah kasus polio liar turun lebih dari 99%. Capaian luar biasa ini merupakan salah satu pencapaian kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah manusia.


Indonesia sempat dinyatakan bebas polio oleh WHO pada 2014 sebagai bagian dari Kawasan Asia Tenggara (SEAR). Namun pada 2022, Indonesia mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) polio pertama setelah lebih dari satu dekade, akibat sirkulasi cVDPV tipe 2 di Aceh, diikuti temuan kasus di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 2023. Ini menjadi pengingat keras bahwa polio bisa kembali ke negara mana pun yang memiliki celah imunitas di populasinya.
Penyebab utama KLB 2022–2023 adalah cakupan vaksinasi yang turun drastis selama pandemi COVID-19, ditambah kantong-kantong wilayah dengan cakupan vaksinasi rendah secara historis.
Polio sangat licik karena sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Ini yang membuat virus mudah menyebar tanpa terdeteksi. Berikut adalah spektrum klinis infeksi poliovirus:
Mayoritas orang yang terinfeksi poliovirus sama sekali tidak merasakan gejala apa pun. Namun mereka tetap menularkan virus kepada orang lain melalui tinja. Inilah sebabnya polio sulit dihentikan penyebarannya hanya dengan mengandalkan pemantauan gejala.
Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan atau membalikkan kelumpuhan akibat polio. Kerusakan sel saraf yang sudah terjadi bersifat permanen. Oleh karena itu, penanganan polio sepenuhnya bersifat suportif dan bertujuan mengurangi penderitaan, mencegah komplikasi, dan memaksimalkan fungsi yang masih tersisa.
Polio dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik yang terjadi segera setelah infeksi, maupun yang muncul puluhan tahun kemudian.

Komplikasi yang paling dikenal dan paling ditakuti. Otot yang kehilangan pasokan saraf motoriknya akan lumpuh dan perlahan mengecil (atrofi). Kelumpuhan paling sering mengenai tungkai bawah, tetapi bisa juga mengenai lengan, otot pernapasan, atau otot wajah

Akibat gangguan fungsi kandung kemih atau pemasangan kateter urin

Pada polio bulbar/bulbospinal, otot pernapasan bisa lumpuh. Tanpa bantuan ventilator, kondisi ini fatal. Di era sebelum ventilasi modern, penderita dimasukkan ke dalam iron lung (paru-paru besi), sebuah tabung besar yang membantu pernapasan secara mekanis

Pada penderita yang harus berbaring lama dan tidak dapat bergerak

Sisa makanan atau cairan yang masuk ke paru-paru akibat gangguan menelan pada polio bulbar. Bisa menyebabkan infeksi paru yang serius
Ini adalah komplikasi yang sangat penting dan sering tidak diketahui masyarakat luas. PPS adalah kondisi di mana penderita polio yang tampaknya sudah sembuh, bahkan puluhan tahun setelah infeksi awal tiba-tiba mengalami kelemahan otot baru, kelelahan ekstrem, dan nyeri sendi/otot yang progresif.

Diperkirakan 25-40% penyintas polio paralitik akan mengalami PPS

Rata-rata 30-40 tahun setelah infeksi polio pertama

Sel-sel saraf motorik yang selamat dari serangan polio pertama bekerja ekstra keras selama bertahun-tahun untuk mengkompensasi sel saraf yang rusak, hingga akhirnya kelelahan dan mulai gagal berfungsi

Kelemahan otot baru yang progresif, kelelahan yang luar biasa (fatigue), nyeri otot dan sendi, kesulitan bernapas atau menelan, dan intoleransi dingin

Bersifat manajemen gejala seperti fisioterapi ringan, konservasi energi, alat bantu, dan dukungan psikososial. Tidak ada terapi yang terbukti menghentikan progresivitasnya

Akibat ketidakseimbangan otot punggung

Lutut, panggul, atau pergelangan kaki yang bengkok akibat ketidakseimbangan otot

Pada anggota gerak yang lumpuh karena kurang digunakan

Akibat penggunaan berlebihan sendi dan otot yang masih berfungsi untuk mengkompensasi yang lumpuh
Poliomielitis atau polio 100% dapat dicegah dengan vaksin. Tidak ada penyakit lain dalam sejarah yang menunjukkan bukti sekuat ini bahwa vaksin benar-benar bekerja. Pencegahan polio berdiri di atas dua pilar utama, yaitu vaksinasi dan sanitasi.
Ada dua jenis vaksin polio yang tersedia:

Vaksin ini diberikan secara oral (tetes ke mulut), mengandung virus polio yang dilemahkan. Kelebihannya: mudah diberikan (tanpa jarum suntik), murah, membentuk kekebalan di usus sehingga mencegah penularan dari orang ke orang, dan bisa menginduksi kekebalan komunitas (herd immunity) lebih efektif.

Keterbatasannya: Dalam satu dari beberapa juta dosis, virus yang dilemahkan bisa bermutasi kembali menjadi virus yang mampu menyebabkan kelumpuhan (VAPP — Vaccine-associated Paralytic Poliomyelitis). Selain itu, pada populasi yang tidak tervaksinasi, virus dari vaksin yang telah bermutasi (cVDPV) bisa bersirkulasi dan menyebabkan wabah.

Vaksin ini disuntikkan, mengandung virus polio yang sudah dimatikan sepenuhnya. Kelebihannya: tidak bisa menyebabkan VAPP atau cVDPV sama sekali, jauh lebih aman

Keterbatasannya: lebih mahal, memerlukan jarum suntik, dan tidak memberikan perlindungan di usus seluat OPV.
Catatan: Indonesia mulai mengintegrasikan IPV ke dalam jadwal imunisasi nasional sejak 2016 untuk memperkuat perlindungan sekaligus mengurangi risiko VAPP.
Untuk orang dewasa yang belum pernah divaksin polio atau riwayat vaksinasinya tidak jelas, vaksinasi (3 dosis IPV) tetap direkomendasikan. Begitu pula untuk pelancong yang akan mengunjungi negara endemis polio.
Dalam situasi KLB polio, pemerintah akan melaksanakan Sub-PIN (Pekan Imunisasi Nasional), vaksinasi massal tambahan yang diberikan kepada semua anak usia sasaran (biasanya 0-7 tahun atau 0-12 tahun) di wilayah terdampak, tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya. Ini bukan pengganti jadwal rutin, melainkan tindakan darurat untuk memutus rantai penularan secepatnya.
Walaupun vaksinasi adalah kunci utama, sanitasi dan kebersihan perorangan tetap berperan penting, terutama di daerah dengan akses air bersih yang terbatas: