logo

Beranda

Informasi Kesehatan

Artikel

Alat Kesehatan Digital

Sistem Digital Faskes

logo

Mendukung Digitalisasi Rekam Medis Anda

Jelajah Informasi Kesehatan dan Alat Cek Kesehatan Digital Mandiri

Informasi Obat

Informasi Menu Diet

Informasi RS dan Klinik

Kalkulator BMI

Pengingat Minum Obat

Personal Health Record

Rencana Diet

Jelajah Artikel Berdasarkan Kategori

Kesehatan

Teknologi

Tenaga Kesehatan

Fasilitas Kesehatan

Informasi Umum

Bioteknologi

Tautan Lainnya

Panduan Pengguna RME

Lihat Fitur RME

Registrasi RME

Uji Coba RME

Sosial Media

Instagram

Tiktok

X/Twitter

Youtube

Privacy Policy•Terms of Service•About Us•Disclaimer

© 2026 Rawat.ID

Poliomielitis

Pada era 1980-an, diperkirakan lebih dari 350.000 kasus kelumpuhan terjadi setiap tahun di seluruh dunia akibat dari kasus poliomielitis.

Ilustrasi Poliomielitis

Jelajahi Informasi

Apa Itu Poliomielitis?

Penjelasan mengenai definisi Poliomielitis

Penyebab & Faktor Risiko

Kenali penyebab & Resiko yang terjadi pada masing masing penyakit

Cara Penularan

Pelajari bagaimana virus menyebar dari satu orang ke orang lain

Tanda & Gejala

Kenali gejala yang muncul pada masing masing penyakit

Penanganan

Pelajari bagaimana virus menyebar dari satu orang ke orang lain

Apa Itu Poliomielitis?

Poliomielitis atau yang biasa disebut sebagai polio adalah salah satu penyakit yang telah mengubah sejarah kesehatan dunia. Dalam beberapa dekade lalu, polio menghantui jutaan orang tua karena kemampuannya melumpuhkan anak-anak dalam semalam. Berkat program vaksinasi global yang masif, polio hampir berhasil dibasmi dari muka bumi. Namun polio belum sepenuhnya hilang dan masih ada ancaman bagi komunitas yang cakupan vaksinasinya rendah.

Dapat Dicegah

Polio dapat dicegah
 100% dengan vaksinasi

Lindungi Komunitas

Vaksinasi melindungi diri sendiri dan orang lain

Gerakan Global

Program vaksinasi global
 berhasil turunkan kasus

Masa Depan Bebas Polio

Dukungan semua pihak penting untuk basmi polio selamanya

Definisi dan Pengertian Poliomielitis

Poliomielitis (polio) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh poliovirus, sejenis enterovirus yang menyerang sistem saraf. Pada sebagian besar kasus, poliovirus tidak menimbulkan gejala atau hanya menyebabkan gejala ringan seperti flu biasa. Namun pada sebagian kecil penderita, virus ini menyerang sumsum tulang belakang dan batang otak, menyebabkan kelumpuhan permanen, atau bahkan kematian.

Nama poliomielitis berasal dari bahasa Yunani, yaitu polios (abu-abu), myelos (sumsum), dan itis (peradangan). Secara harfiah berarti peradangan pada substansi abu-abu di sumsum tulang belakang, yang merupakan mekanisme utama penyebab kelumpuhannya.

Warna Tubuh

Hitam dengan bintik-bintik putih khas di seluruh tubuh.

Waktu Aktif

Pagi (08:00–10:00) dan sore hari (16:00–18:00). Bukan malam hari.

Tempat Berkembang Biak

Air bersih tergenang (bak mandi, vas, ban bekas, talang atap).

Jarak Terbang

Relatif pendek, biasanya dalam radius 100–200 meter.

Fakta Penting tentang Poliomielitis!

Poliomielitis bukan sekadar penyakit masa lalu, virus polio liar masih ditemukan di Pakistan dan Afghanistan hingga 2024. Selain itu, wabah polio yang berasal dari virus vaksin yang bermutasi (cVDPV) masih terjadi di berbagai negara, termasuk beberapa negara Afrika dan Asia, termasuk Indonesia.

Tiga Jenis Poliovirus

Terdapat 3 serotipe poliovirus liar (wild poliovirus/WPV):

WPV tipe 1 (WPV1)

satu-satunya tipe yang masih bersirkulasi di dunia saat ini. Paling sering menyebabkan kelumpuhan

WPV tipe 2 (WPV2)

dinyatakan telah eradikasi global sejak September 1999

WPV tipe 3 (WPV3)

dinyatakan telah eradikasi global sejak Oktober 2019

Penyebab dan Faktor Risiko Poliomielitis

Poliovirus Sebagai Penyebab dari Poliomielitis

Poliovirus adalah virus RNA berukuran sangat kecil dari famili Picornaviridae, genus Enterovirus. Virus ini sangat stabil di lingkungan, bisa bertahan di air atau tinja selama berminggu-minggu, terutama di lingkungan yang dingin dan lembab. Poliovirus masuk ke tubuh manusia melalui mulut, berkembang biak di tenggorokan dan usus, kemudian dikeluarkan lewat tinja penderita dalam jumlah besar, bahkan sebelum gejala muncul.

Cara Penularan Poliomielitis

Rute fekal-oral (paling utama)

Virus dari tinja penderita mencemari air minum, makanan, atau tangan yang tidak dicuci, kemudian tertelan oleh orang lain.

Rute oral-oral

Melalui tetesan air liur dari orang yang terinfeksi, terutama pada awal infeksi.

Air dan sanitasi buruk

Virus berkembang pesat di lingkungan dengan sanitasi yang tidak memadai dan akses air bersih yang terbatas.

Penting untuk Dipahami Terkait Poliomielitis!

Seseorang yang terinfeksi poliovirus bisa menularkan virus ke orang lain mulai dari 7–10 hari sebelum gejala muncul, dan terus menularkan selama 3–6 minggu setelah terinfeksi. Artinya, penularan sering terjadi tanpa disadari karena penderita tampak sehat.

Faktor Risiko Poliomielitis

Siapa yang Paling Berisiko Tertular?

  • Anak di bawah 5 tahun: kelompok paling rentan, terutama yang belum mendapat vaksinasi lengkap.
  • Belum divaksin atau vaksinasi tidak lengkap: faktor risiko terbesar; vaksinasi adalah satu-satunya perlindungan yang terbukti efektif.
  • Tinggal atau bepergian ke daerah endemis: Pakistan, Afghanistan, dan negara-negara dengan wabah VDPV aktif.
  • Lingkungan sanitasi buruk: daerah tanpa akses air bersih dan pengelolaan limbah yang tidak memadai.
  • Kepadatan penduduk tinggi: mempermudah penyebaran virus dari satu orang ke orang lain.
  • Imunokompromis: penderita HIV/AIDS atau yang menjalani kemoterapi lebih rentan mengalami infeksi berat.

Faktor yang Memperburuk Risiko Kelumpuhan

  • Aktivitas fisik berat saat infeksi aktif: olahraga atau aktivitas keras selama fase infeksi meningkatkan risiko terkena polio paralitik.
  • Suntikan intramuskular selama infeksi: suntikan (misalnya imunisasi lain) yang diberikan saat infeksi aktif dapat memicu kelumpuhan di anggota gerak yang disuntik.
  • Kehamilan: wanita hamil yang terinfeksi berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius.
  • Defisiensi imun: terutama defisiensi imunoglobulin meningkatkan risiko kelumpuhan.

Epidemiologi: Gambaran Poliomielitis di Dunia dan Indonesia

Situasi Global

Pada puncak epidemi polio global sekitar tahun 1952, lebih dari 58.000 kasus dilaporkan hanya di Amerika Serikat dalam satu tahun. Pada era 1980-an, diperkirakan lebih dari 350.000 kasus kelumpuhan terjadi setiap tahun di seluruh dunia.

Sejak Global Polio Eradication Initiative (GPEI) diluncurkan pada 1988 oleh WHO, Rotary International, CDC, dan UNICEF, jumlah kasus polio liar turun lebih dari 99%. Capaian luar biasa ini merupakan salah satu pencapaian kesehatan masyarakat terbesar dalam sejarah manusia.

Capaian Eradikasi Polio Global (per 2024):

  • Virus polio liar tipe 2: Eradikasi global sejak 1999
  • Virus polio liar tipe 3: Eradikasi global sejak 2019
  • Virus polio liar tipe 1: Masih bersirkulasi di Pakistan dan Afghanistan
  • 125 negara kini bebas polio, termasuk India (sertifikat bebas polio sejak 2014)
  • Ancaman baru: wabah dari virus vaksin (cVDPV) masih terjadi di lebih dari 30 negara

Situasi di Indonesia

Indonesia sempat dinyatakan bebas polio oleh WHO pada 2014 sebagai bagian dari Kawasan Asia Tenggara (SEAR). Namun pada 2022, Indonesia mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) polio pertama setelah lebih dari satu dekade, akibat sirkulasi cVDPV tipe 2 di Aceh, diikuti temuan kasus di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 2023. Ini menjadi pengingat keras bahwa polio bisa kembali ke negara mana pun yang memiliki celah imunitas di populasinya.

Penyebab utama KLB 2022–2023 adalah cakupan vaksinasi yang turun drastis selama pandemi COVID-19, ditambah kantong-kantong wilayah dengan cakupan vaksinasi rendah secara historis.

Peringatan: KLB Polio Indonesia 2022–2023

Kasus pertama ditemukan pada seorang anak usia 7 tahun di Pidie, Aceh pada Oktober 2022. Anak tersebut belum pernah mendapat vaksin polio. Setelah investigasi, ditemukan bukti sirkulasi aktif cVDPV2 di komunitas tersebut. Merespons hal ini, pemerintah melaksanakan Sub-PIN Polio (vaksinasi massal) di wilayah terdampak. Kejadian ini membuktikan bahwa tidak ada negara yang aman selama cakupan vaksinasi tidak merata.

Tanda dan Gejala Poliomielitis

Polio sangat licik karena sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala sama sekali. Ini yang membuat virus mudah menyebar tanpa terdeteksi. Berikut adalah spektrum klinis infeksi poliovirus:


Infeksi Tanpa Gejala (Inapparent/Asimtomatik) — 72% kasus

Mayoritas orang yang terinfeksi poliovirus sama sekali tidak merasakan gejala apa pun. Namun mereka tetap menularkan virus kepada orang lain melalui tinja. Inilah sebabnya polio sulit dihentikan penyebarannya hanya dengan mengandalkan pemantauan gejala.


Tahapan Gejala pada Polio Paralitik:

  • Fase 1 (Prodromal, hari 1–3): Demam, sakit kepala, nyeri tenggorokan, mirip flu
  • Fase 2 (Preparalitik, hari 3–7): Gejala memburuk, muncul nyeri otot hebat dan kaku, sering disertai kejang otot
  • Fase 3 (Paralitik, mulai hari ke-7): Kelumpuhan mendadak yang bisa terjadi dalam jam. Biasanya tidak disertai nyeri setelah kelumpuhan terbentuk. Tidak ada perubahan sensasi (tidak mati rasa)
  • Fase 4 (Pemulihan, minggu ke 2 dst): Sebagian fungsi otot bisa kembali dalam 6–12 bulan pertama. Fungsi yang tidak pulih dalam 12–18 bulan kemungkinan besar akan permanen

Penanganan dan Tatalaksana Poliomielitis

Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan atau membalikkan kelumpuhan akibat polio. Kerusakan sel saraf yang sudah terjadi bersifat permanen. Oleh karena itu, penanganan polio sepenuhnya bersifat suportif dan bertujuan mengurangi penderitaan, mencegah komplikasi, dan memaksimalkan fungsi yang masih tersisa.

Penanganan Fase Akut (Saat Gejala Aktif)

Istirahat Total dan Posisi yang Benar

  • •Istirahat total di tempat tidur: aktivitas fisik selama fase akut dapat memperluas area kelumpuhan
  • •Posisi tubuh yang benar: anggota gerak yang terkena harus diposisikan pada posisi fungsional atau posisi netral untuk mencegah kontraktur, deformitas sendi akibat otot yang memendek.
  • •Bidai (splint): digunakan untuk mempertahankan posisi anggota gerak yang lumpuh

Manajemen Nyeri

  • •AnalgesikAnalgesik (pereda nyeri): paracetamol atau ibuprofen untuk nyeri dan demam
  • •Kompres hangat: pada otot yang nyeri dan mengalami spasme (kram)
  • •Hindari obat pelemas otot yang kuat: kecuali atas petunjuk dokter spesialis

Bantuan Pernapasan (untuk Polio Bulbar/Bulbospinal)

  • •Pemantauan ketat kapasitas paru: dilakukan secara berkala menggunakan spirometer
  • •Ventilator mekanik: jika otot pernapasan melemah dan penderita tidak dapat bernapas sendiri. Ini tindakan penyelamat jiwa
  • •Manajemen sekresi jalan napas: untuk mencegah aspirasi dan pneumonia
  • •Perawatan intensif (ICU): wajib untuk kasus dengan gangguan pernapasan

Daerah Tropis

  • •Intake cairan yang cukup: untuk mencegah dehidrasi, terutama pada anak kecil
  • •Nutrisi adekuat: mendukung proses pemulihan dan menjaga massa otot yang sehat
  • •Pipa nasogastrik: jika ada kesulitan menelan pada polio bulbar

Penanganan Fase Pemulihan dan Rehabilitasi Jangka Panjang

Fisioterapi (Physical Therapy)

  • •Latihan rentang gerak (ROM exercises): menjaga agar sendi tidak kaku dan mencegah kontraktur
  • •Penguatan otot bertahap: melatih otot-otot yang tersisa dan masih berfungsi untuk mengkompensasi otot yang lumpuh
  • •Hidroterapi: latihan di air untuk meminimalkan beban gravitasi pada otot yang lemah
  • •Stimulasi listrik (electrical stimulation): pada beberapa kasus untuk memperlambat atrofi otot

Alat Bantu dan Ortopedi

  • •Kaki palsu (prostesis): untuk amputasi atau hilangnya fungsi kaki
  • •Brace/caliper (ortosis kaki-kaki): membantu stabilitas berjalan pada kelumpuhan sebagian
  • •Kursi roda atau kruk: untuk mobilitas jika kelumpuhan tidak memungkinkan berjalan
  • •Koreksi bedah (orthopedic surgery): pada beberapa kasus untuk memperbaiki kontraktur atau deformitas sendi yang parah

Terapi Okupasi dan Dukungan Psikososial

  • •Terapi okupasi: melatih aktivitas keseharian dengan keterbatasan fisik yang ada
  • •Dukungan psikologis: kelumpuhan permanen memiliki dampak psikologis yang sangat besar, khususnya pada anak-anak
  • •Integrasi sosial dan pendidikan: anak dengan polio berhak mendapat pendidikan inklusi dan dukungan sosial yang memadai

Komplikasi Poliomielitis

Polio dapat menyebabkan berbagai komplikasi, baik yang terjadi segera setelah infeksi, maupun yang muncul puluhan tahun kemudian.

Komplikasi Akut Poliomielitis

Kelumpuhan permanen

Komplikasi yang paling dikenal dan paling ditakuti. Otot yang kehilangan pasokan saraf motoriknya akan lumpuh dan perlahan mengecil (atrofi). Kelumpuhan paling sering mengenai tungkai bawah, tetapi bisa juga mengenai lengan, otot pernapasan, atau otot wajah

Infeksi saluran kemih

Akibat gangguan fungsi kandung kemih atau pemasangan kateter urin

Gagal napas

Pada polio bulbar/bulbospinal, otot pernapasan bisa lumpuh. Tanpa bantuan ventilator, kondisi ini fatal. Di era sebelum ventilasi modern, penderita dimasukkan ke dalam iron lung (paru-paru besi), sebuah tabung besar yang membantu pernapasan secara mekanis

Ulkus dekubitus (luka baring)

Pada penderita yang harus berbaring lama dan tidak dapat bergerak

Pneumonia aspirasi

Sisa makanan atau cairan yang masuk ke paru-paru akibat gangguan menelan pada polio bulbar. Bisa menyebabkan infeksi paru yang serius

Komplikasi Jangka Panjang

Post-Polio Syndrome (PPS) — Sindrom Pasca-Polio

Ini adalah komplikasi yang sangat penting dan sering tidak diketahui masyarakat luas. PPS adalah kondisi di mana penderita polio yang tampaknya sudah sembuh, bahkan puluhan tahun setelah infeksi awal tiba-tiba mengalami kelemahan otot baru, kelelahan ekstrem, dan nyeri sendi/otot yang progresif.

Prevalens

Diperkirakan 25-40% penyintas polio paralitik akan mengalami PPS

Waktu munculnya

Rata-rata 30-40 tahun setelah infeksi polio pertama

Mekanisme

Sel-sel saraf motorik yang selamat dari serangan polio pertama bekerja ekstra keras selama bertahun-tahun untuk mengkompensasi sel saraf yang rusak, hingga akhirnya kelelahan dan mulai gagal berfungsi

Gejala utama

Kelemahan otot baru yang progresif, kelelahan yang luar biasa (fatigue), nyeri otot dan sendi, kesulitan bernapas atau menelan, dan intoleransi dingin

Penanganan PPS

Bersifat manajemen gejala seperti fisioterapi ringan, konservasi energi, alat bantu, dan dukungan psikososial. Tidak ada terapi yang terbukti menghentikan progresivitasnya

Tentang Post-Polio Syndrome

Banyak penyintas polio di Indonesia yang kini berusia 40-60 tahun mungkin sedang atau akan mengalami PPS. Jika Anda atau orang yang Anda kenal pernah menderita polio dan kini merasakan kelemahan baru atau kelelahan ekstrem, segera konsultasikan ke dokter spesialis saraf atau dokter rehabilitasi medis.

Komplikasi Ortopedi Jangka Panjang

Skoliosis (tulang belakang bengkok)

Akibat ketidakseimbangan otot punggung

Deformitas sendi

Lutut, panggul, atau pergelangan kaki yang bengkok akibat ketidakseimbangan otot

Osteoporosis

Pada anggota gerak yang lumpuh karena kurang digunakan

Nyeri sendi kronik

Akibat penggunaan berlebihan sendi dan otot yang masih berfungsi untuk mengkompensasi yang lumpuh

Pencegahan Poliomielitis

Poliomielitis atau polio 100% dapat dicegah dengan vaksin. Tidak ada penyakit lain dalam sejarah yang menunjukkan bukti sekuat ini bahwa vaksin benar-benar bekerja. Pencegahan polio berdiri di atas dua pilar utama, yaitu vaksinasi dan sanitasi.

Vaksin Poliomielitis: Senjata Utama

Ada dua jenis vaksin polio yang tersedia:

OPV — Oral Polio Vaccine (Vaksin Polio Oral/Tetes)

Vaksin ini diberikan secara oral (tetes ke mulut), mengandung virus polio yang dilemahkan. Kelebihannya: mudah diberikan (tanpa jarum suntik), murah, membentuk kekebalan di usus sehingga mencegah penularan dari orang ke orang, dan bisa menginduksi kekebalan komunitas (herd immunity) lebih efektif.

Keterbatasannya: Dalam satu dari beberapa juta dosis, virus yang dilemahkan bisa bermutasi kembali menjadi virus yang mampu menyebabkan kelumpuhan (VAPP — Vaccine-associated Paralytic Poliomyelitis). Selain itu, pada populasi yang tidak tervaksinasi, virus dari vaksin yang telah bermutasi (cVDPV) bisa bersirkulasi dan menyebabkan wabah.

IPV — Inactivated Polio Vaccine (Vaksin Polio Suntik)

Vaksin ini disuntikkan, mengandung virus polio yang sudah dimatikan sepenuhnya. Kelebihannya: tidak bisa menyebabkan VAPP atau cVDPV sama sekali, jauh lebih aman

Keterbatasannya: lebih mahal, memerlukan jarum suntik, dan tidak memberikan perlindungan di usus seluat OPV.

Jadwal Vaksinasi Polio di Indonesia (Program Imunisasi Nasional)

Jadwal Imunisasi Polio Sesuai Kemenkes RI

  • OPV-0 (bPOL): Diberikan saat bayi baru lahir (0-24 jam pertama)
  • OPV-1: Usia 1 bulan
  • OPV-2: Usia 2 bulan
  • OPV-3: Usia 3 bulan
  • IPV: Usia 4 bulan (diberikan bersama OPV-3 atau saat kunjungan tersendiri)
  • OPV Booster: Usia 18 bulan

Catatan: Indonesia mulai mengintegrasikan IPV ke dalam jadwal imunisasi nasional sejak 2016 untuk memperkuat perlindungan sekaligus mengurangi risiko VAPP.

Untuk orang dewasa yang belum pernah divaksin polio atau riwayat vaksinasinya tidak jelas, vaksinasi (3 dosis IPV) tetap direkomendasikan. Begitu pula untuk pelancong yang akan mengunjungi negara endemis polio.

Kapan Anak Perlu Vaksin Tambahan (Sub-PIN Polio)?

Dalam situasi KLB polio, pemerintah akan melaksanakan Sub-PIN (Pekan Imunisasi Nasional), vaksinasi massal tambahan yang diberikan kepada semua anak usia sasaran (biasanya 0-7 tahun atau 0-12 tahun) di wilayah terdampak, tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya. Ini bukan pengganti jadwal rutin, melainkan tindakan darurat untuk memutus rantai penularan secepatnya.

Pencegahan Melalui Sanitasi dan Higienitas

Walaupun vaksinasi adalah kunci utama, sanitasi dan kebersihan perorangan tetap berperan penting, terutama di daerah dengan akses air bersih yang terbatas:

  • Cuci tangan pakai sabun: terutama setelah buang air besar, mengganti popok bayi, dan sebelum menyiapkan makanan
  • Air minum yang aman: gunakan air yang telah dimasak atau dari sumber yang terjamin kebersihannya
  • Pengelolaan tinja yang benar: BAB di jamban yang benar, tidak di sungai atau tanah terbuka
  • Sanitasi lingkungan: pengelolaan limbah dan sampah yang baik mencegah kontaminasi sumber air

Mitos dan Fakta Terkait Poliomielitis

Mitos
Fakta
Polio sudah tidak ada, jadi tidak perlu vaksin lagi
Virus polio liar tipe 1 masih bersirkulasi di Pakistan dan Afghanistan. wabah cVDPV masih aktif di puluhan negara. Indonesia sendiri baru mengalami KLB 2022-2023. Selama satu pun kasus masih ada di dunia, semua anak berisiko.
Vaksin polio bisa menyebabkan anak jadi polio
Ini sangat jarang. VAPP (kelumpuhan akibat OPV) terjadi sekitar 1 dalam 2-3 juta dosis pertama. Risiko ini jauh, jauh lebih kecil dibanding risiko tertular polio liar yang bisa menyebabkan kelumpuhan permanen. Vaksin IPV (suntik) sama sekali tidak bisa menyebabkan VAPP.
Anak yang sudah pernah kena polio tidak perlu divaksin
Ada 3 tipe poliovirus. Infeksi satu tipe tidak melindungi dari tipe lain. Selain itu, banyak anak yang didiagnosis 'polio' ternyata bukan polio sungguhan. Semua anak perlu mengikuti jadwal vaksinasi lengkap.
Polio hanya menyerang anak kecil, orang dewasa aman
Orang dewasa yang tidak pernah divaksin atau tidak memiliki kekebalan terhadap poliovirus juga bisa tertular dan mengalami kelumpuhan. Kelompok dewasa justru lebih berisiko mengalami dampak yang lebih berat.
Polio hanya menular melalui sentuhan dengan penderita
Rute penularan utama polio adalah fekal-oral, melalui air atau makanan yang terkontaminasi tinja penderita. Seseorang bisa terinfeksi hanya karena minum air yang tercemar, tanpa pernah menyentuh penderita.
Semua penderita polio pasti mengalami kelumpuhan
Jauh dari kenyataan. Sekitar 72% infeksi poliovirus tidak menunjukkan gejala sama sekali. Dari yang bergejala, hanya 1 dari 200 kasus yang berujung kelumpuhan. Mayoritas penderita sembuh sempurna.
Polio bisa sembuh total dengan pengobatan herbal atau suplemen
Tidak ada obat herbal, suplemen, atau terapi alternatif yang terbukti secara ilmiah dapat menyembuhkan atau membalikkan kelumpuhan akibat polio. Satu-satunya langkah efektif adalah pencegahan melalui vaksinasi.

Pesan Akhir

Polio adalah penyakit yang sangat berbahaya namun 100% dapat dicegah. Sejarah telah membuktikan bahwa vaksin polio telah menyelamatkan ratusan juta anak dari kelumpuhan permanen. Tanggung jawab kita bersama adalah memastikan setiap anak mendapat vaksinasi lengkap, menjaga sanitasi lingkungan, dan tidak menyebarkan informasi yang salah tentang vaksin. Polio bebas hanya bisa dicapai jika tidak ada celah dalam kekebalan komunitas kita.

Medical Writerdr. Iffah Rizki Hasanah
Visual & DevelopmentSitti Tsarwa AkinRaisulwathanKhalil Maulana
Pengarah ProduksiYaumil Ikhsan