Warna Tubuh
Hitam dengan bintik-bintik putih khas di seluruh tubuh.
Indonesia adalah salah satu negara endemis Demam Berdarah Dengue. Hampir seluruh wilayah Indonesia berisiko, dan wabah besar kerap terjadi setiap tahunnya.

Penjelasan mengenai definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Kenali penyebab & Resiko yang terjadi pada masing masing penyakit
Pelajari bagaimana virus menyebar dari satu orang ke orang lain
Kenali gejala yang muncul pada masing masing penyakit
Pelajari bagaimana virus menyebar dari satu orang ke orang lain
Demam Berdarah Dengue (DBD) — atau dalam istilah medis disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) — adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terinfeksi. Penyakit ini tidak menular langsung dari satu manusia ke manusia lain — hanya bisa ditularkan melalui nyamuk perantara.
DBD termasuk dalam kelompok penyakit tropis yang paling cepat menyebar di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan 390 juta infeksi dengue terjadi setiap tahun, dengan sekitar 96 juta yang menunjukkan gejala klinis. Indonesia sendiri adalah salah satu negara endemis dengueterbesar di dunia — hampir seluruh wilayah Indonesia berisiko, dan wabah besar kerap terjadi setiap tahunnya.

DBD termasuk penyakit tropis yang paling cepat menyebar di dunia.

Melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terinfeksi.

Hampir seluruh wilayah Indonesia beresiko tinggi terkena DBD.
Inilah yang membuat seseorang bisa menderita DBD lebih dari satu kali seumur hidup.

DENV-1
Tipe 1

DENV-2
Tipe 2

DENV-3
Tipe 3

DENV-4
Tipe 4
Jika seseorang pernah terinfeksi serotipe 1, tubuhnya akan kebal terhadap serotipe tersebut seumur hidup — namun tetap rentan terhadap serotipe 2, 3, dan 4. Infeksi kedua justru lebih berisiko menyebabkan DBD yang parah.
Nyamuk Aedes Aegypti adalah vektor utama penularan DBD. Nyamuk betina yang menggigit penderita DBD akan menghisap virus bersama darahnya. Selama 8–12 hari masa inkubasi ekstrinsik, virus berkembang biak di dalam tubuh nyamuk. Setelah itu, nyamuk tersebut menjadi infektif dan bisa menularkan virus ke manusia lain melalui gigitannya.
Ciri khas nyamuk Aedes Aegypti yang perlu diketahui:
Hitam dengan bintik-bintik putih khas di seluruh tubuh.
Pagi (08:00-10:00) dan sore hari (16:00-18:00). Bukan malam hari.
Air bersih tergenang (bak mandi, vas, ban bekas, talang atap).
Relatif pendek, biasanya dalam radius 100-200 meter.
Faktor Lingkungan
Faktor Individu
Status Risiko Saat Ini
Centang faktor risiko yang sesuai dengan kondisi Anda.
Gejala DBD biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Perjalanan penyakit DBD terbagi dalam 3 fase yang khas, memahami fase ini sangat penting agar tidak salah dalam menilai kondisi pasien.
Sampai saat ini, belum ada obat antivirus spesifik yang terbukti efektif untuk mengobati infeksi dengue. Penanganan DBD bersifat suportif, artinya bertujuan untuk mengatasi gejala, mencegah komplikasi, dan memberi waktu tubuh untuk sembuh sendiri. Namun penanganan suportif yang tepat dan tepat waktu inilah yang menyelamatkan nyawa.
Tidak semua penderita DBD harus dirawat di rumah sakit. Pasien dengan kondisi umum baik, bisa minum dengan cukup, dan tidak ada tanda bahaya bisa dirawat di rumah dengan pengawasan ketat.

Minum cairan yang cukup dan sering
Air putih, oralit, jus buah, atau larutan isotonik (minuman elektrolit). Targetnya sampai urin berwarna kuning muda dan frekuensi berkemih 4–6x per hari.

Istirahat total
Tubuh membutuhkan energi penuh untuk melawan infeksi.

Pantau suhu tubuh
Ukur setiap 4–6 jam. Catat dan laporkan ke dokter.
Pasien perlu dirawat inap jika ada tanda bahaya, trombosit sangat rendah, atau tidak bisa minum cairan yang cukup secara oral.

Cairan Infus (IV Fluid)
Dokter akan menghitung jenis dan kecepatan cairan berdasarkan kondisi pasien. Ini kunci utama penanganan fase kritis.

Pemantauan Tanda Vital Ketat
Tekanan darah, nadi, saturasi oksigen, dan produksi urin dipantau secara berkala.

Transfusi Trombosit
Hanya diberikan jika trombosit sangat rendah (<10.000/mm³) atau ada perdarahan aktif yang signifikan. Bukan berdasarkan angka trombosit saja.

Transfusi Darah
Hanya jika ada perdarahan berat yang menyebabkan anemia signifikan.
Terkait Transfusi Trombosit pada Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD)
Transfusi tidak selalu menjadi solusi. Salah satu kesalahan umum adalah meminta transfusi trombosit hanya karena angkanya rendah. Panduan WHO dan IDAI menegaskan bahwa transfusi trombosit tidak rutin diberikan pada DBD. Pemberian cairan yang tepat jauh lebih penting dan efektif. Transfusi yang tidak perlu justru membawa risiko reaksi transfusi.
Komplikasi DBD terjadi terutama saat fase kritis tidak ditangani dengan baik. Berikut adalah komplikasi yang paling penting untuk diketahui:

Dengue Shock Syndrome (DSS) — Syok Dengue
Komplikasi paling berbahaya dan paling umum pada DBD. Terjadi ketika kebocoran plasma sangat masif sehingga volume darah yang beredar turun drastis, dan tekanan darah tidak bisa dipertahankan. Tanda-tandanya adalah tekanan darah turun atau menyempit, nadi cepat dan lemah, kulit dingin dan pucat, penderita tampak gelisah atau justru lemas sekali. Tanpa penanganan cairan yang segera dan agresif, DSS bisa menyebabkan kegagalan organ dan kematian dalam hitungan jam.

Perdarahan Berat
Meskipun lebih jarang dari yang banyak orang kira, perdarahan berat bisa terjadi pada kasus yang berat, terutama jika pasien juga mengalami syok. Bentuknya bisa berupa pendarahan pada saluran cerna, misalnya muntah darah atau BAB hitam, perdarahan otak, atau perdarahan masif dari gusi, hidung, atau area kulit.

Gangguan Organ
Kabar baiknya: DBD adalah penyakit yang sangat bisa dicegah. Pencegahan berfokus pada dua hal utama: mengendalikan nyamuk Aedes Aegypti dan melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Program 3M Plus — Cara Paling Efektif
Ini adalah strategi utama pencegahan DBD yang direkomendasikan Kemenkes RI:

Perlindungan Diri dari Gigitan Nyamuk

Vaksinasi Dengue
Saat ini tersedia vaksin dengue (Dengvaxia/CYD-TDV) di Indonesia. Namun vaksin ini memiliki ketentuan penting: hanya direkomendasikan untuk orang yang sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya (seropositif), berusia 9–45 tahun, dan tinggal di daerah endemis. Pemberian pada orang yang belum pernah terinfeksi justru meningkatkan risiko DBD parah saat infeksi pertama kali terjadi. Konsultasikan dengan dokter sebelum vaksinasi.
MITOS
FAKTA
Minum jus jambu biji bisa menaikkan trombosit dan menyembuhkan DBD
Tidak ada bukti ilmiah bahwa jus jambu menaikkan trombosit. Trombosit naik sendiri seiring tubuh sembuh. Jus jambu boleh diminum karena mengandung cairan dan vitamin C, bukan karena bisa menaikkan trombosit.
Trombosit di bawah 100.000 harus langsung transfusi
Transfusi trombosit hanya diindikasikan saat trombosit sangat rendah (<10.000/mm³) atau ada perdarahan aktif. Angka trombosit rendah saja tanpa perdarahan tidak otomatis memerlukan transfusi.
Kalau demam sudah turun, berarti sudah sembuh
Turunnya demam pada hari ke-4 sampai ke-6 justru menandai dimulainya fase kritis. Pasien harus tetap dipantau ketat saat demam turun.
DBD menular langsung dari orang ke orang
DBD tidak menular dari manusia ke manusia. Penularan hanya melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi virus dengue dari penderita lain.
Nyamuk demam berdarah hanya keluar malam hari
Justru sebaliknya. Nyamuk Aedes Aegypti paling aktif pada siang hari, pagi pukul 08.00–10.00 dan sore pukul 16.00–18.00. Bukan malam hari seperti nyamuk malaria.
Sekali kena DBD, seumur hidup kebal
Kekebalan hanya terbentuk terhadap 1 dari 4 serotipe virus dengue. Anda bisa terkena DBD hingga 4 kali seumur hidup dari serotipe yang berbeda.
Pesan Penting
DBD adalah penyakit yang serius tetapi sangat bisa dicegah dan ditangani. Kunci utamanya ada di tiga hal:
Jangan terkecoh dengan mitos yang beredar. Percayakan penanganan kepada tenaga medis dan ikuti panduan berbasis bukti.
Medical Writer
dr. Iffah Rizki Hasanah
Visual & Development
Sitti Tsarwa Akin
Raisulwathan
Khalil Maulana
Pengarah Produksi
Yaumil Ikhsan